Friday, June 14, 2013

41. ORGANISASI SEBAGAI SISTEM TERBUKA DAN POTENSI MASALAHNYA

A.      PENDAHULUAN 
Teori umum sistem awalnya dipelopori oleh ahli biologi Ludwig Von Bertalanffy yang menulis bahwa a system is characterized by interactions of its components and the nonlinearity of those interactions. Von Bertalanffy memperluas teori sistim termasuk sistim biologi (biological systems).  Von Bertalanffy dkk membentuk suatu perkumpulan untuk pengembangan teori sistim kemudian mempublikasikan General System Theory : Foundation, Development, and Applications yang menulis bahwa Systems theory is a transdisciplinary approach that abstracts and considers a system as a set of independent and interactions part.
Teori sistem memiliki dua konsep dasar yaitu: konsep subsistem yang melihat hubungan antar bagian sebagai hubungan sebab akibat. Konsep kedua memandang sebab jamak (multiple causation) sebagai hubungan yang saling berkaitan yakni tiap bagian merupakan kompleks (kumpulan) yang tiap faktornya saling berkaitan. (Owens; 1987). Sistem adalah suatu kebulatan keseluruhan yang kompleks atau terorganisir; suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau utuh. (Tatang M. Amirin, 1992:10)
Organisasi adalah sekelompok individu yang berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu dalam suatu sistem kerja yang mempunyai kejelasan dalam pembagian kerja atau peran. Organisasi memilki subsistem yang saling berhubungan dan membutuhkan untuk menguatkan organisasi dalam mencapai tujuan organisasi tersebut. Organisasi merupakan sekumpulan orang yang bekerja bersama dalam suatu divisi untuk mencapai tujuan bersama (Schermerhorn, dkk., 1997:9). Tujuan ini tidak saja untuk organisasi itu sendiri melainkan juga untuk kepentingan masyarakat.

B.     KLASIFIKASI SISTEM
Sebagai bagian yang sangat penting dalam mendukung suatu organisasi, maka sistem dapat dilihat dalam beberapa jenis, menurut Kambey (2010:39-41) antara lain:
1.    Sistem alamiah (natural system) dan sistem buatan manusia.
Sistem alamiah (natural system) adalah sistem yang terjadi karena proses alamiah, dan tidak terpengaruh campur tangan manusia; seperti sistem tata surya.
Sistem buatan manusia (human mode system) adalah sistem yang dirancang dan diciptakan manusia, misalnya sistem tata organisasi.
2.    Sitem terbuka (open system) dan sitem tertutup (closed system)
Sistem terbuka (open system) adalah sistem yang selalu berhubungan dengan lingkungan luarnya (interrelation) dan dipengaruhi oleh lingkungannya. Sehingga terjadi memberi dan menerima informasi, energy, dan materi-materi dari lingkungannya.
Sistem tertutup (closed system) adalah sistem yang tidak berinteraksi dan tidak dipengaruhi oleh lingkungannya, dan bekerja mengikuti pola yang tetap secara sebab akibat (suatu saat sistem inipun akan dipengaruhi oleh lingkungannya)
.
3.    Sistem sederhana (simple system) dan sistem kompleks (sophisticated system)
Pembagian sistem ini didasarkan pada tingkat kerumitannya
4.    Sistem deterministic (deterministic system) dan sistem probabilistic (probabilistic system). Sistem deterministic (deterministic system) adalah suatu sistem yang operasinya dapat diramalkan secara tepat dan pasti. Sistem probabilistik (probabilistic system) adalah sistem yang tak adapat diramal dengan tepat dan pasti karena mengandung unsur kemungkinan.

C. PENDEKATAN SISTEM
Sistem dapat diartikan sebagai gabungan sub-sub sistem yang saling berkaitan. Organisasi sebagai suatu sistem akan dipandang secara keseluruhan, terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan (sub-sistem), dan sistem/organisasi tersebut akan berinteraksi dengan lingkungan.
Model sistem sebagaimana digambarkan oleh Bertalanffy yang terkenal dengan General System Theory (GST). Karakteristik GTS adalah (1) input organisasi; biasanya diperoleh dari lingkungan, seperti bahan mentah, manusia, modal, dan informasi (2) proses transformasi; kegiatan dalam organisasi, seperti sistem produksi, pengendalian, administrasi (3) output;keluaran yang dihasilkan ke lingkungan, seperti produk, keuntungan, informasi (4) feedback; umpan balik. Sehingga setiap organisasi memiliki pendekatan-pendekatan dalam sistemnya yang meliputi penerapan konsep-konsep dan strategi yang cocok dari teori-teori sistem guna mempermudah pemahaman tentang organisasi dan praktik manajerialnya. Sehingga pendekatan-pendekatan yang dilakukan dalam sistem suatu organisasi dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.    Sistem terbuka. Sistem yang terbuka berarti sistem tersebut berinteraksi dengan lingkungan. Sebaliknya sistem yang tertutup adalah sistem yang tidak berinteraksi dengan lingkungan. Semua organisasi merupakan sistem terbuka, meskipun dengan tingkat yang berbeda-beda.
2.    Sub-sistem. Sub-sistem merupakan bagian dari sistem. Dalam sistem, sub-sub sistem saling mempengaruhi. Sehingga agar dapat mengendalikan sistem dengan seksama dan sinergis, maka sistem harus dilihat secara komprehensif, artinya sistem dapat terbangun bila sub-sub sistem berfungsi secara sempurna.
3.    Sinergi. Jika sub-sub sistem bekerjasama, maka hasil yang diperoleh akan lebih efektif dibandingkan bekerja secara sendiri-sendiri. Sinergi sering dikaitkan dengan merger dimana dua organisasi yang bersatu akan lebih efisien dibandingkan dengan jika dua organisasi berjalan sendiri-sendiri, terutama pada organisasi-organisasi yang mengelola produk.
4.    Batasan sistem. Batasan sistem membatasi sistem dengan lingkungannya. Dalam sistem yang terbuka, biasanya batas tersebut fleksibel, berbeda dengan sistem tertutup, batas tersebut kaku.
5.    Aliran. Input akan mengalir ke sistem, kemudian diproses oleh sistem, dan keluar sebagai output.
6.    Feedback. Feedback atau umpan balik merupakan elemen penting dalam pengendalian. Umpan balik informasi diberikan ke orang-orang yang tepat dalam organisasi, kemudian diproses lebih lanjut. Sehingga jika sesuatu melenceng dari rencana yang telah ditetapkan, maka perbaikan bisa segera dilakukan.
7.    Entropi. Entropi merupakan proses dimana sistem menuju ke kehancuran. Jika satu organisasi tidak mampu memproses feedback dengan baik dan tidak bisa menyesuaikan perubahan selera konsumen/ stakeholders, maka akan mengalami kebangkrutan dan mati. Aliran sistem percaya bahwa aliran sistem akan menyerap aliran lainnya, atau berkembang menjadi aliran yang dominan dengan definisi aliran yang jelas.
Secara sederhana suatu sistim dapat diartikan sebagai suatu kumpulan atau himpunan dari unsur, komponen, atau variabel yang terorganisir, saling berinteraksi, saling tergantung satu sama lain, dan terpadu. Setiap unsur pembentuk suatu organisasi adalah penting dan harus mendapat perhatian yang utuh supaya pengambil keputusan dapat bertindak lebih efektif. Teori sistem melahirkan konsep-konsep :
  1. Konsep futuristik, antara lain yang terkenal adalah konsep sibernetika (cybernetics).  Konsep ini terutama berkaitan dengan upaya menerapkan berbagai disiplin ilmu, yaitu ilmu perilaku, fisika, biologi dan teknik. Konsep sibernetik dalam sektor perikanan dan kelautan dapat dilihat pada pembuatan peta tata ruang wilayah pesisir, di mana dalam proses pembuatannya melibatkan banyak disiplin ilmu seperti ahli tata ruang, ahli perikanan, ahli lingkungan, ahli oseanografi dan sebagainya.
  2. Konsep sinergi, prinsipnya bahwa di dalam melakukan sesuatu outputsecara sistim akan lebih besar dibanding output secara sendiri-sendiri. Kegiatan bersama dari bagian yang terpisah, tetapi saling berhubungan secara bersama-sama akan menghasilkan efek total yang lebih besar dari pada jumlah bagian secara individu dan terpisah.
      Kontribusi Bertalanffy terhadap teori sistem yang paling dikenal karena teori Open System. Para teori sistem tradisional berpendapat bahwa modelsistem tertutup berdasarkan pada ilmu pengetahuan klasik dan hukum kedua termodinamika yang tidak dapat dipertahankan. Bertalanffy menyatakan bahwa perumusan konvensional fisika pada prinsipnya, tidak bisa diterapkan pada organisme makhluk hidup. Sistem terbuka memiliki steady state.Sehingga diduga banyak karakteristik dari sistem kehidupan yang paradoks dalam pandangan hukum fisikamerupakan konsekuensi dari fakta ini.

D.  OPEN SYSTEM  
Bertalanffy (1968) mengandaikan paradigma sistem pada aspek ilmu kimia, biologi, dan matematika dimana suatu sistem akhirnya akan berada pada titik equilibrium seperti hal nya sebuah proses physiologi. Sistem di dalam sebuah organisme dikatakan sebagai sebuah sistem terbuka karena dipengaruhi oleh banyak faktor yang berada di luar organisme itu sendiri. Suatu sistem dikatakan terbuka menurut Ludwig Von Bertalanffy bila aktivitas didalam sistem tersebut dipengaruhi oleh lingkungannya, sedangkan suatu sistem dikatakan tertutup bila aktivitas-aktivitas didalam sistem tersebut tidak dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi dilingkungannya.
Dalam model Bertalanffy ini, teori yang ditetapkan prinsip-prinsip umum sistem terbuka dan keterbatasan model konvensional. Teori ini dianggap berasal dari aplikasi untuk biologi, teori informasi dansibernetika, akan tetapi secara potensial dapat diaplikasikan pada ilmu-ilmu yang lain. Sistem terbuka memiliki interaksi yang dinamis dengan lingkungannya baik transmisi dan menerima energi. Model dasar sistem terbuka adalah interaksi dinamis komponennya.
Sistem sederhana biasanya memiliki interaksi lingkungan terbatas dan fungsi fisik.
Entitas biologis, di sisi lain, yang dibangun dari bagian-bagian yang berbeda dan terpisah.
Bertalanffy (1969) menyatakan, "Alasan untuk dominasi segregasi dalam hidup alam
tampaknya segregasi itu ke dalam sistem parsial menunjukkan peningkatan kompleksitas dalam sistem". Segregasi progresif dapat menyebabkan mekanisasi progresif, yang menciptakan kurang dinamis umpan balik sistem dan kesulitan regulasi. Namun, peningkatan mekanisasi menyiratkan pengaturan tetap dan kondisi kendala yang dapat membuat sistem lebih efisien menyelesaikan tugas tertentu.Akibatnya, produk akhir dari
segregasi progresif dan mekanisasi progresif adalah peningkatan sistem kompleksitas sistem terbuka.
Sebuah sistem tertutup, sering fokus fisika konvensional dan pendekatan penelitian analitis, terisolasi dari lingkungannya. Dalam keadaan kesetimbangan, sistem tertutup tidak perlu energi untuk pelestarian nya, juga dapat energi diperoleh dari itu. 

E.     KARAKTERISTIK OPEN SYSTEM
Teori tentang open system relatif masih baru dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum bias terpecahkan dengan teori ini. Pengembangan teori open system didasarkan pada dua sumber, pertama biofisik kehidupan suatu organism dan kedua perkembangan pada industrI kimia, dimana disamping adanya reaksi di dalam proses secara tertutup tetapi juga mempertimbangkan unsur efisiensi dan keuntungan lainnya. Thermodynamic theory disebut irreversible thermodynamic yang merupakan satu generalisasi teori dari physical theory.
Meskipun open system menunjukkan karakteristik yang luar biasa, tetapi pada beberapa kondisi tertentu berada pada posisi steady state. Kondisi ini berada pada jarak antara equilibrium dan kondisi yang sebenarnya.  Open system memiliki interaksi yang dinamis dengan lingkungannya baik transmisi dan menerima energi. Steady statemenujukkan karakteristik yang luar biasa dengan adanya kejelasan pada equifinality. Equifinality merupakan satu kondisi  yang dapat tercapai dengan berbagai potensi yang dimiliki. Istilah ini berbeda dengan tujuan, ketika menggambarkan satu sistem yang kompleks. Istilah ini juga berarti bahwa satu aquifinality dapat dicapai melalui banyak jalur yang berbeda, bahkan dengan kondisi awal yang berbeda. Dalam organisasi equifinality menyiratkan bagaimana organisasi dapat menciptakan keunggulan kompetitif yang sama berdasarkan kompetensi yang berbeda secara substansial.
Berdasarkan prinsip dari thermodynamic, open system dapat memelihara sistem tersebut dari kemungkinan yang tidak terduga dan organisasi. Open system yang lebih komplek sebenarnya terdapat pada kajian biologi yang dianalisa oleh Burton, Rashevsky, hearon, Raeiner, Denbight dan penulis lainnya. Agar dapat melakukan pekerjaan satu sistem tidak harus berada pada kondisi equilibrium namun cenderung untuk terus menerus mencapainya, agar dapat mencapai titik ini maka maka sistem harus dipertahankan dalam kondisi stabil. Oleh karena itu, karakter open system adalah kondisi yang sangat diperlukan untuk kapasitas kerja yang terus menerus dari organisme.

Gambar 1
Equifinality of Growth

Steady state ini banyak terdapat pada open system, sangat tergantung pada kondisi yang ada dan ditentukan oleh parameter sistem. Konsekuensi yang menarik pada kondisi ini adalah, pertama, komposisi sistem dalam kondisi steady state tetap konstan, meskipun rasio komponen tidak didasarkan pada keseimbangan kimia reaksi reversibel, tetapi reaksi yang terjadi dan, sebagian, irreversible.   Kedua, rasio steady state komponen bergantung hanya pada konstanta sistem, bukan pada kondisi lingkungan. Sedangkan kondisi yang tetap ini tergantung pada katalisator saat ini dan reaksi konstan. Pada open system akan terjadi fenomena overshoot dan false start ketika pada awalnya sistem berada pada titik yang berseberangan dengan steady state.



F.     OPEN SYSTEM DAN CYBERNETICS
Dasar dari model open system adalah adanya interaksi yang dinamis antar komponen. Dasar model cybernetic adalah adanya umpan balik, dimana dengan adanya informasi umpan balik maka nilai-nilai yang diinginkan dapat dijaga sehingga dapat mencapai tujuan. Teori cybernatic didasarkan padafeedback dan informasi. Kedua model ini dapat saling melengkapi meskipun masing-masing juga memiliki perbedaan dan keterbatasan. Model open systempada formulasi kinetic dan thermodynamic  tidak berbicara mengenai informasi. Sebaliknya sistem umpan balik adalah termodinamika dan kinetikal yang tertutup tanpa adanya metabolism. 
Cybernatic dapat diaplikasikan ketika sistem yang akan dianalisa terlibat dalam sebuah sinyal loop tertutup; yaitu, ketika aksi dari sistem menyebabkan beberapa perubahan pada lingkungannya dan perubahan itu memberikan umpan kepada sistem melalui informasi (umpan balik) yang menyebabkan sistem menyesuaikan diri dengan kondisi baru ini: perubahan sistem mempengaruhi perilakunya. Hubungan "lingkaran sebab-akibat" ini diperlukan dan cukup untuk perspektif cybernatic.
Contemporary cybernatic mulai sebagai studi interdisiplin yang menghubungkan bidang-bidang sistem kendali, teori sirkuit, teknik mesin, logika pemodelan, biologi evolusi, neurosains, antropologi, danpsikologi pada tahun 1940an.


G.    ORGANISASI SEBAGAI SISTEM TERBUKA
Ketika mempelajari perilaku organisasi seringkali kita menemukan istilah organisasi sebagai open system. Organisasi disini dipahami sebagai sekumpulan orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Organisasi bukankah entitas yang berdiri sendiri tetapi pasti ada lingkungan yang menjadi wahana organisasi tersebut hidup tumbuh dan berkembang. Karena organisasi membutuhkan lingkungan maka bisa dikatakan organisasi tersebut merupakan sistem yang terbuka. Untuk menghasilkan barang dan jasa organisasi mengambil sumber daya dari lingkungan eksternal dan mengkonversi atau mengubahnya menjadi barang dan jasa yang siap untuk diolah kembali atau dinikmati oleh end user yang dikirim kembali ke lingkungan tersebut, di mana mereka dibeli oleh pelanggan. Siklus tersebut terus menerus berlangsung sampai organisasi tersebut bubar.
Organisasi sebagai open system ini bisa diibaratkan seperti organisme yang hidup dalam media tertentu. Agar dapat bertahan hidup organisme ini perlu terus menerus berinteraksi dengan lingkungannya, mengambil makanan dari lingkungan, kemudian pengkonversikannya menjadi energi dan kemudian energi serta limbahnya dilepaskan kembali ke lingkungan. Bagan berikut ini menggambarkan bagaimana organisasi bekerja sebagai open system.


Bagan di atas  menjelaskan bahwa organisasi dilingkupi oleh lingkungan dimana organisasi mengambil sumberdaya yang berupa bahan mentah, uang dan kapital, serta SDM. Proses mengambil sumberdaya ini seringkali disebut sebaha tahapan mendapatkan input. Selanjutnya sumberdaya tesebut diubah menggunakan mesin, komputer, dan dikendalikan oleh keterampilan manusia untuk menambahkan nilai dari sumberdaya tersebut. Setelah tahapan konversi, maka kemudian masuk dalam tahapan output dimana sumberdaya tadi kemudian berubah bentuk menjadi barang dan jasa yang siap dilepaskan di lingkungan kembali melalui proses penjualan. Proses penjualan pada hakikatnya merupakan proses untuk mendapatkan input kembali untuk diproses menjadi barang dan jasa. semua itu bertujuan untuk menjamin kelaingsungan hidup dan pertumbuhan organisasi.
Konsep input-output sering disebut sebagai model linear, yaitu teori yang menjelaskan bagaimana sistem dapat dijelaskan dalam konteks dunia nyata. Suatu teori yang beranjak dari konsep umum ke khusus yang tampak logis, rasional dan teratur berupaya untuk mencari jawaban terhadap upaya menghubungkan nilai input dan nilai output sehingga menghasilkan efisiensi biaya.
Organisasi sebagai sistem yang menciptakan dan menjaga lingkungan didalamnya memuat interaksi manusia yang kompleks (baik antar individu maupun dalam kelompok). Organisasi dengan open system dapat digambarkan seperti fenomena nyala api lilin, sinar yang dipancarkannya akan memengaruhi kondisi lingkungan di sekelilingnya. Dalam sistem yang terbuka, organisasi dengan sistem yang lebih luas orang akan berinteraksi aktif dengan sistem eksternal yang terdapat pada lingkungannya. Misalnya organisasi sekolah, harus dipandang sebagai hubungan antara perilaku manusia dan konteksnya. Perilaku organisasi difokuskan pada sekolah sebagai suatu sistem.
Organisasi (sistem) berada dalam lingkungan (suprasistem) yang didalamnya memuat pula sub sistem (perangkat administrasi dalam organisasi). Batasan antar sub sistem dibuat dengan garis putus-putus yang berarti antar bagian dapat saling menembus (permeable). Antara subsistem yang terlibat dapat saling mempengaruhi lewat hubungan yang interaktif dan adaptif antar komponen. Masalah yang terjadi pada satu bagian dapat menjadi ancaman terhadap fungsi keseluruhan. (Owens; 1987).
Organisasi sebagai open system adalah organisasi yang berinteraksi dengan lingkungan dengan kata lain organisasi yang menerima sesuatu dari suatu sistem dan melepaskannya kepada sistem yang lain. Organisasi merupakan suatu open system karena selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Open system adalah “sistem yang berhubungan dan terpengaruh dengan lingkungan luarnya”. Sistem ini menerima masukan dan menghasilkan keluaran untuk lingkungan luar atau subsistem yang lainnya, sehingga harus memiliki sistem pengendalian yang baik. Lingkungan dapat dilakukan dengan dua arah yaitu organisasi dipenuhi perubahan dan sebaliknya lingkungan dipengaruhi oleh organisai. Adapun lingkungan organisasi terdiri atas lingkungan mikro dan makro.
Open system akan mencapai suatu tingkat dinamika tertentu atau keseimbangan dinamis. Di sisi lain sistem ini masih mempunyai kemampuan yang berkelanjutan untuk melangsungkan kerja dan melakukan transformasi ke pihak lain. Sistem ini mempunyai proses putaran yang kontinu yang menyebabkan daya hidupnya berkelangsungan. Organisasi dipandang sebagai hal yang dinamis yang senantiasa berubah. Masukan yang berasal dari lingkungan, diterima oleh sesuatu organisasi. Kemudian organisasi tersebut memproses sebagai salah satu kegiatannya untuk mencapai tujuan organisasi. Hasil pemrosesan ini dikirim dan diterima oleh lingkungan baik berupa barang-barang atau jasa pelayanan. Hasil ini dirasakan oleh masyarakat sebagai unsur lingkungan dari organisasi tersebut. Lingkunganakan memberikan umpan balik kepada organisasi yang digunakan sebagai bahan masukan baru untuk diolah dan diproses didalam organisasi. Dengan cara demikian organisasi mencapai tingkat keseimbangan yang dinamis dengan lingkungannya. Karena ia dirangsang untuk mendapatkan potensi baru guna melanjutkan kelangsungan hidupnya.
Open system menekankan hubungan dan ketergantungan antara unsur-unsur oranisasi yang bersifat sosial dan teknologi. Organisasi dipertimbangkan sebagai serangkaian variabel yang saling berhubungan,dimana perubahan satu variabel akan menyebabkan berubahnya variabel lainnya. Sistem organisasi terbuka tidak hanya terbuka bagi lingkungannya saja, akan tetapi terbuka pula bagi dirinya sendiri. Open system menyesuaikan pada lingkungannya dengan cara melakukan perubahan-perubahan susunan dan proses dari  komponen-komponen di dalam organisasi itu sendiri.
Karakteristik dari open system ini menurut Burns dan Stalker (1994) merupakan kebalikan dari 12 butir karakteristik dari sistem tertutup.
1.      Tugas-tugas yang tidak rutin berlangsung dalam kondisi-kondisi yang tidak stabil.
2.      Pengetahuan spesialisasi menyebar pada tugas-tugas pada umumnya. Berbeda dengan sistem tertutup bahwa pemahaman dari spesialisasi tugas itu pengetahuan spesialisasinya dimiliki oleh masing-masing orang yang barang kali hanya bisa dipergunakam jika menguntungkan orang tersebut untuk mengatasi  berbagai tugas organisasi.
3.      Hasil (atau apa yang bisa dikerjakan) diutamakan
4.      Konflik di dalam organisasi diselesaikan dengan interaksi diantara teman sejawat.
5.      Pencairan pertanggungjawaban ditekankan. Dalam hal ini tugas-tugas yang bersifat formal dikesampingkan untuk melibatkan semua anggota didalam memecahkan persoalan-persoalan organisasi.
6.      Rasa pertanggungjawaban yang loyalitas seseorang adalah pada organisasi secara keseluruhan, tidak hanya pada subunit organisasi yang telah dibebankan kepada seseorang pejabat.
7.      Organisasi dipandang sebagai struktur network yang merembes (fluiding network structure) (dalam hal ini organisasi dilihat sebagaiamoeba).
8.      Pengetahuan atau informasi dapat berada dimana saja di dalam organisasi (misalnya, setiap orang mengetahui sesuatu yang bergayutan dengan organisasinya. Tidak semua orang termasuk kepala atau pimpinan dapat mengetahui semua hal).
9.      Interaksi di antara orang-orang di dalam organisasi cenderung bergerak secara horizontal, selancar geraknya interaksi vertikal.
10.  Gaya interaksi yang diarahkan untuk mencapai tujuan lebih berifat pemberian saran disbandingkan dengan pemberian instruksi, dan disifati dengan mitos setia kawan dengan mengesampingkan hubungan antara atasan-bawahan.
11.  Hasil tugas dan pelaksanaan kerja yang baik diutamakan, bukannya menekankan pada loyalitas dan kepatuhan pada seseorang atasan.
12.  Prestise ditentukan dari pihak luar (externalized) misalnya kedudukan atau status seseorang di dalam organisasi sangat ditentukan oleh kemampuan professional dan reputasi seseorang.

Kelemahan Organisasi Terbuka
Organisasi dengan open system merupakan satu system yang sudah sangat baik karena menerima masukan tertentu, seperti bahan baku, informasi, tenaga kerja, dan peralatan. Di sisi lain organisasi juga menghasilkan produk yang dilepas, disalurkan dan diterima oleh sistem lain. Proses ini berlangsung terus menerus tanpa ada hentinya.
 Namun kelemahan pada organiasi open system yang perlu diwaspadai adalah jika organisasi gagal memperoleh masukan yang diperlukan dari sistem lain dan keluarannya tidak diserap atau ditolak sistem lain maka, organisasi lama-kelamaan akan hilang eksistensinya. Hal ini yang kemudian membuat suatu organisasi atau industri bubar atau bangkrut.

H.    SYSTEM THINKING
System thinking  telah begitu popular di kalangan masyarakat hal ini menimbulkan berbagai pendapat dari para pemikir (cendekiawan) mengenai pemikiran sistem. Sifat-sifat system thinking  berhubungan dengan tiga persoalan filsafat, yaitu apa dan berapa banyak yang ingin diketahui, serta seberapakah nilainya pengetahuan bagi umat manusia. Inti utama dari System thinking  merupakan pewujudan dasar dari pemikiran sistem sebagai konsep teori sistem umum yaitu sebagai teori sistem terbuka. Konsep ini telah banyak digunakan secara luas dan telah di aplikasikan ke bidang-bidang pokok persoalan yang beraneka ragam karena dapat dilihat persoalan dari sudut pandang pemikiran sistem dan persoalan subyek sebagai sistem terbuka. Berkaitan dengan system thinking ada beberapa hal yang perlu kita ketahui.
1.      Aspek Ontologi dari system thinking
Menurut Quine masalah ontology dapat diungkapkan menjadi tiga kata What is there? Untuk menjawab pertanyaan yang mendasar mengenai masalah ontology ini seorang ahli mengatakan jawaban dari pertanyaan Quine adalah sebuah sistem. Hal ini menunjukkan bahwa setiap eksistensi tidak dapat berdiri sendiri tetapi berhubungan secara teratur. Selanjutnya ahli teori sistem mempunyai pandangan dan penilaian bahwa tiap eksistensi memiliki tatanan yang beraturan dan ketidakacakan. Sejumlah pertanyaan seputar aspek ontology pada akhirnya menjawab secara keseluruhan apa yang ingin diketahui adalah sifat wujud yang ada dengan cara teratur melalui pembentukan sistem.
2.      Aspek Epistemologi system thinking
Platform epistemologis pemikiran sistem juga melandaskan pada premis tentang holisme. Pada tataran ini menyatakan bahwa metode penelitian harus didasarkan pada keberadaan seluruh obyek yang diteliti dan bukan di dasarkan pada pendekatan analitik maupun atomistik.
3.      Aspek Aksiologi system thinking
Para pakar teori sistem melihat dunia dalam bentuk pemikiran. Jadi para pakar teori sistem mengatakan bahwa harus dilakukan usaha untuk menempatkan dunia pada kondisi yang teratur. C.P. Snow  menegaskan bahwa masyarakat barat telah menjadi sangat terpecah ini merupakan polarisasi kedalam ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Sedangkan menurut Boulding secara keseluruhan dunia empiris akan lebih menarik ketika dalam keteraturan. Dalam kasus ini pakar teori sistem sangat diperlukan dalam merencanakan usaha untuk menempatkan dunia dalam keteraturan. Secara sederhana hal ini menegaskan pakar teori sistem menaruh perhatian terhadap perencanaan masa depan dengan merancang kembali sistem yang ada kedalam suatu yang lebih kohern secara totalitas untuk kebutuhan manusia.
4.      Logika Metafisika system thinking
Ciri dasar yang membedakan system thinking dari pemikiran kontemporer adalah logika metafisika. Hollisme, yang melengkapi dasar ontology dan epistemology menghasilkan sistem logika sebagai dasar metafisika. Dari pandangan ini system thinking dapat dipahami sebagai meta science titik kedudukan yang di benarkan oleh pendukung system thinking. Pada permulaan abad sembilan belas karya Auguste Comtesampai pada pemikir kontemporer seperti Karl Poper , Arthur Eddington dan James Jean mereka mengusulkan ide metafisika untuk mengikuti tempat pengesahan dalam penyelidikan ilmiah. Kenyataan menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan memainkan dua peran penting yang berbeda pada satu sisi sebagai metafisika dan di sisi lain sebagai pengertian umum terdidik. Dasar metafisika pemikiran sistem adalah sistem logis.
Sejarah system thinking
System thinking memiliki sejarah panjang yang berhubungan dari Khaldun sampai Whitehead. Sejarah pemikiran sistem modern menganut pada Teori Sistem Umum dan Sistem Penelitian Umum. Konsep Teori Sistem Umum diperkenalkan oleh Ludwig von Bertalanffy  tahun 1937. Selanjutnyakonsep Teori Sistem Umum ini menjadi panduan gerakan pemikir sistem modern. Perkembangan selanjutnya pada tahun 1948 Nobert Wienermemperkenalkan teori sibenatika yang menjelaskan tentang perilaku yang memiliki tujuan dan adaptasi yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan studi sistem. dengan pendekatan sistem yang ada. Selanjutnya pada tahun 1954 Penelitian Sistem Umum (General System Research)dilembagakan.
Logika sistem telah diterapkan pada berbgai bidang mulai dari ekonomi, pemasaran, sosiologi, psikologi, pendidikan. Pergerakan sistem dikategorikan menjadi dua arah, yang pertama adalah penelitian lanjutan tentang sifat sistem dalam istilah ilmiahnya disebut Penelitian Sistem Umum. Tujuan utama dari Penelitian Sitem Umum adalah sebagai berikut :
  1. Menyelidiki konsepisomorf, hukum dan model dalam berbagai bidang dan membantu transfer yang bermanfaat dari satu bidang ke bidang lainnya.
  2. Mendorong pengembangan model teoritis yang memadai dalam bidang-bidang yang kekurangan model teoritis tersebut.
  3. Meminimalisir duplikasi usaha teoritis pada bidang-bidang yang berbeda.
  4. Mempromosikan kesatuan ilmu pengetahuan melalui perbaikan komunikasi di antara spesialis.

System thinking di dalam Organisasi
Organisasi pada dasarnya terdiri atas unit yang harus bekerja sama untuk menghasilkan kinerja yang optimal. Kesuksesan suatu organisasi sangat ditentukan oleh kemampuan organisasi untuk melakukan pekerjaan secara sinergis yang akan dimiliki jika  semua anggota unit saling memahami pekerjaan unit lain dan memahami juga dampak dari kinerja unit tempat dia bekerja pada unit lainnya. Seringkali dalam organisasi orang hanya memahami apa yang dikerjakan dan tidak memahami dampak dari pekerjaannya dia pada unit lainnya. Selain itu seringkali timbul fanatisme seakan-akan hanya unitnya sendiri yang penting perannya dalam organisasi dan unit lainnya tidak berperan sama sekali. Fenomena ini disebut dengan ego-sektoral. Kerugian akan sangat sering terjadi akibat ketidakmampuan untuk bersinergi satu dengan lainnya, pemborosan biaya, tenaga dan waktu.
Tidak adanya pemikiran sistemik ini akan membuat anggota tidak memahami konteks keseluruhan dari organisasi. Kini semakin banyak organisasi yang mengandalkan pada struktur tanpa batas (boundaryless organization). Sementara pada organisasi yang masih menggunakan struktur organisasi berbasis fungsi, kini fungsi-fungsi yang terkait dengan proses yang sama dibuat saling melintas batas fungsi; organisasi yang demikian disebut organisasi lintas fungsi atau cross-functional organization. Organisasi-organisasi yang demikian ini akan membuat proses pembelajaran lebih cepat karena masing-masing orang dari fungsi yang berbeda akan berbagi pengetahuan dan pengalamannya dan akan mempercepat proses pembelajaran individu (individual learning) di dalam organisasi terkait.

I.       PENDIDIKAN SEBAGAI SISTEM
Pendidikan sebagai sebuah sistem terdiri dari sejumlah komponen. Komponen tersebut antara lain: raw input (sistem baru), output (tamatan),instrumental input (guru, kurikulum), environmental input (budaya, kependudukan, politik dan keamanan). Sistem pendidikan juga dapat dilihat dalam ruang lingkup makro. Sebagai subsistem, bidang ekonomi, pendidikan,dan politik masing-masing-masing sebagai sistem. Pendidikan formal, nonformal, dan informal merupakan subsistem dari  bidang pendidikan sebagai sistem dan seterusnya.

 Analisis sitem pendidikan
Penggunaan analisis sistem dalam pendidikan dimaksudkan untuk memaksimalkan pencapaian tujuan pendidikan dengan cara yang efesien dan efektif. Prinsip utama dari penggunaan analisis sistem ialah: bahwa kita dipersyaratkan untuk berpikir secra sistmatik, artinya harus memperhitungkan segenap komponen yang terlibat dalam masalah pendidikan yang akan dipecahkan. Komponen-komponen yang baik menunjang terbentuknya suatu sistem yang baik. Tetapi komponen yang baik saja belum menjamin tercapainya tujuan sistem secara optimal, manakala komponen tersebut tidak berhubungan secara fungsional dengan komponen lain.
Pada ruang lingkup besar terlihat pula sistem yang satu saling berhubungan dengan sistem yang lain. Hal ini wajar, oleh karena pada dasarnya setiap sistem itu hanya merupakan satu aspek dari kehidupan. Sedangkan segenap segi kehidupan itu kita butuhkan, sehingga semuanya memerlukan pembinaan dan pengembangan.
Organisasi pendidikan merupakan sistem terbuka punya konsekuensi perilaku tambahan. Sekolah sebagai contoh adalah subjek dari dua kekuatan eksternal yang secara alami menentukan pengaturan internal sekolah. Standar profesional dan harapan yang ditujukan pada guru lewat training, asosiasi akrediting, permintaan dari kolega, kaitan antara pendidikan dan industri, aturan tahunan adalah sedikit dari pengaruh profesional yang berasal dari luar dan pengaruh perilaku yang ada di sekolah.
Kekuatan pengaruh yang kedua berasal dari pengaruh sosiokultural yang lebih luas yang pengaruhi norma yang berlaku di sekolah. Hal ini bersumber dari perbedaan yang ada pada standar tradisi komunitas, hukum, peraturan yang berlaku dan juga budaya barat secara luas. Penerapan sistem tertutup ke dalam objek pendidikan berbentuk penyelenggaraan sistem kegiatan pendidikan menurut koridor pengajaran. Sedangkan sistem terbuka cenderung menurut koridor pembimbingan dan pengasuhan.
Sasaran sistem pengajaran, khusus dikembangkan di pendidikan sekolah, adalah sesuatu yang bersifat konkret positif, yaitu berupa ‘keterampilan’. Terampil membaca, menulis, dan berhitung. Materi pendidikan dalam jenis mata pelajaran dipolakan dalam bentuk ‘textbook’, yakni buku pelajaran yang disusun menurut pola tertentu (Satuan Acara Pengajaran).Sementara pembimbingan dan pengasuhan menunjuk pada ‘output’ atau hasil dari seluruh rangkaian penyelenggaraan pendidikan menurut objek forma, metode, dan sistem seperti tersebut di atas. Hasilnya berupa ‘kecerdasan intelektual’, yaitu kemampuan berkreasi untuk mencipta segala perubahan yang berguna bagi kelangsungan dan perkembangan kehidupan sehari-hari.

J.      SIMPULAN
Setelah menyimak pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa :
1.      Sistem merupakan gabungan sub-sub sistem yang saling berkaitan. Organisasi sebagai suatu sistem akan dipandang secara keseluruhan, terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan (sub-sistem), dan sistem/organisasi tersebut akan berinteraksi dengan lingkungan.
2.      Open system adalah suatu sistem yang berinteraksi dengan lingkungan. Sebaliknya sistem yang tertutup adalah sistem yang tidak berinteraksi dengan lingkungan. Semua organisasi merupakan sistem terbuka, meskipun dengan tingkat yang berbeda-beda.
3.      Organisasi sebagai open system adalah organisasi yang berinteraksi dengan lingkungan atau menerima sesuatu dari suatu sistem dan melepaskannya kepada sistem yang lain.
4.      System thinking  memperoleh popularitas yang sangat besar dan penerimaan yang luas. Namun penggunaannya bisa jadi sangat menyesatkan jika tidak mengetahui hakikat dasar prinsip-prinsipnya.Prinsip dasar pemikiran sistem adalah logika sistem yang akan lebih berguna jika digabungkan dengan usaha untuk menganalisa keadaan melalui penelitian.
5.      Pendidikan sebagai sebuah sistem terdiri dari sejumlah komponen beruparaw input output, instrumental input, environmental input.  Sebagai subsistem, bidang ekonomi, pendidikan,dan politik masing-masing-masing sebagai sistem. Pendidikan formal, nonformal, dan informal merupakan subsistem dari  bidang pendidikan sebagai sistem


DAFTAR PUSTAKA

Bertalanffy LV, 1968,   General System Theory, Foundation, Development, Aplication, Revised Edition, George Braziller, New York

Hersey, Paul dan Kenneth H. Blancard (1995), Manajemen Perilaku Organisasi:Pendayagunaan Sumber Daya Manusia, Penerj. Agus Dharma, Edisi 4, Jakarta: Erlangga.

Kambey, D.C (2006), Landasan Teori Administrasi/Manajemen (sebuah intisari),Manado: Yayasan Tri Ganesha Nusantara.

Kartono, Kartini, (2008), Pemimpin dan Kepemimpinan, Apakah Kepemimpinan Abnormal Itu?, Cet. XII, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Owens, Robert G., (1987), Organizational Behavior in Education, Third Edition New Jersey: Prentice-Hall Inc.

Rivai, Veithzal (2004), Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, Edisi Kedua(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Tom Autor Burns and G. M Autor Stalker (1994),   The Management of Innovation,Oxford University Press.

Thoha, Miftah. 2008. Ilmu Administrasi Publik Kontemporer. Jakarta: Kencana Prenada


Thoha, Miftah, (2008), Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
                        
Wexley, Kenneth N., dan Yukl Gary A, (2003) Perilaku Organisasi dan Psikologi Personalia, Cet. II, Penerj. Muh. Shobaruddin, Jakarta: Rineka Cipta,

40. Organisasi sebagai Sistem Sosial

Pendahuluan
Pengertian organisasi adalah suatu kelompok orang yang mempunyai tujuan yang sama. Tujuan merupakan hasil yang berupa barang, jasa, uang, pengetahuan dan lain-lain. Sedangkan pengertian dari sosial adalah manusia yang berkaitan dengan masyarakat dan para anggotanya (dikutip dari W3 dictionary). Dengan demikian sistem sosial merupakan orang-orang dalam masyarakat dianggap sebagai sistem yang disusun oleh karakteristik dari suatu pola hubungan dimana sistem tersebut bekerja untuk mewujudkan keinginannya. Beberapa hal yang menggambarkan organisasi sebagai sistem sosial antara lain dengan adanya organisasi sosial.
Perilaku organisasi adalah telaah dan penerapan pengetahuan tentang bagaimana orang bertindak di dalam organisasi. Dengan demikian dalam kaitannya dengan organisasi sebagai sistem sosial maka kajian perilaku organisasi mencakup berbagai aspek seperti : publik, bisnis, sosial dll. Kita tahu bahwa hampir semua pekerjaan dilakukan dalam lingkup sosial. Begitupula dengan organisasi, organisasi akan berjalan dengan baik jika diatur dengan sistem yang baik sehingga cakupan sosial didalamnya dapat bekerja sesuai pakem yang telah diatur dalam suatu sistem. Cakupan sosial yang dimaksud adalah pekerjaan, komunikasi serta koordinasi yang dilakukan dalam organisasi tersebut untuk mencapai tujuan bersama.
Faktor faktor Organisasi antara lain (menurut John Willey)
  • Manusia
  • Teknologi yang digunakan
  • Tugas/ kerja
  • Budaya organisasi
Manusia merupakan salah satu faktor penting dalam organisasi. Manusia itu sendiri merupakan makhluk social. Dan dalam organisasi manusia bekerja tidak sendiri, maka manusia melakukan komunikasi serta koordinasi dalam bekerja. Dengan demikian aspek sosial tidak dapat dipisahkan dari organisasi. Dan dapat dikatakan juga bahwa Sistem sosial itu juga merupakan organisasi dan sebaliknya.

A.   Organisasi Dipandang Sebagai Perwujudan Tingkah Laku Orang-orang yang Mengakomodasi Interaksi Berstruktur
Sistem adalah komponen-kmponen yang mempunyai hubungan antara satu dengan yang lainnya, yang saling berpengaruh dan tak dapat dipisahkan. Menurut Dr. Nasikin suatu sistem sosial, pada dasarnya tidak lain adalah suatu sistem dari pada tindakan-tindakan. Ia terbentuk dari interaksi sosial yang terjadi diantara berbagai individu, yang tumbuh dan berkembang. Sedangkan menuurut sistem organik organisasi-organisasi yang ada dapat dibandingkan dengan sistem biologis yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Di bawah ini unsur sistem sosial berdasarkan unsur sistem:
  1. Adanya elemen-elemen yaitu masyarakat,
  2. Adanya interaksi atau hubungan antar elemen-elemen atau bagian-bagian dalam setiap individu,
  3. Elemen-elemen masyarakat menjadi satu keutuhan yang tidak dapat dipisahkan,
  4. Mempunyai tujuan yang sama dalam lingkungan sosial.
Sedangkan organisasi sebagai sistem mempunyai ciri-ciri diantaranya:
  1. Terbuka, yaitu sebuah organisasi mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar baik positif maupun negatif.
  2. Suatu sistem terdiri dari dua atau lebih sub sistem, maksudnya organisasi mempunyai struktur yang jelas dari susunan atas sampai bawah dalam struktur organisasi.
  3. Diantara sub sistem terjadi ketergantungan dalam organisasi adanya kegiatan dimana proses yang dilakukan dan dikerjakan secara bertahap dan teratur sesuai dengan prosedurnya.
  4. Kemampuan menyesuaikan diri, organisasi harus mempunyai sifat fleksibel dalam menyikapi lingkungan sosial yang berbeda termasuk individu didalamnya.
  5. Adanya tujuan, organisasi harus menentukan tujuan yang dicapainya agar dapat menukur tingkat keberhasilan organisasi itu sendiri.
  6. Mempunyai batas, suatu organisasi meskipun terbuka tetapi harus mempunyai batasan-batasan dengan lingkungan sosial, karena meskipun organisasi berbaur dengan lingkungannya namun tidak menjadikan organisasi itu lebur dengan lingkungan sosial karena organisasi pada dasarnya mempunyai prinsip yang dianut.
  7. Mekanisme control, organisasi menerima masukan-masukan dari masyarakat khususnya stakeholder untuk dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas produk organisasi.
Organisasi sebagai sistem pada dasarnya yaitu suatu organisasi harus mampu bertahan dan berkembang dalam lingkungannya dan menghadapi komponen-komponen sosial yang terjadi didalamnya.
Perilaku setiap individu dalam interaksi berstruktur berbeda-beda tergantung dari individu tersebut, tingkah laku interaksi berstruktur dalam organisasi artinya perilaku individu yang terjadi interaksi dalam sebuah struktur organisasi tersebut, atau perilaku individu dalam berinteraksi yang terkait dengan pekerjaan organisasi. Dibawah ini terdapat dua model desain organisasi:
~ Model mekanik, merupakan model struktur birokrat dimana kekuasaan tertinggi dipegang penuh oleh pemimpin teratas.
Keunggulan dari model ini yaitu:
  • Adanya spesialisasi yang tinggi dalam pembagian tugas sehingga produktivitas tenaga kerja tinggi.
  • Adanya sentralisasi dimana setiap keputusan dan tindakan dalam tiap-tiap bagian harus diketahui oleh pemimpin sehingga organisasi terkontrol.
  • Adanya rantai perintah yang jelas seperti pembagian kerja dan jabatan structural yang jelas, termasuk wewenang dan tanggung jawab setiap individu.
Sedangkan kekurangan model ini diantaranya:
  • Spesialisasi pekerjaan mengakibatkan tenaga kerja merasa jenuh dan kemampuannya kurang berkembang.
  • Hubungan formal yang tinggi mengakibatkan terjadinya hubungan yang kaku dalam setiap individu didalamnya.
~ Model organik, dapat dikatakan model struktur yang sifatnya kerja sama.
Keunggulan model ini diantaranya:
  • Arus informasi bebas sehingga tenaga kerja dapat bebas memperoleh informasi yang ia butuhkan.
  • Desentralisasi yaitu setiap bagian mempunyai wewenang dan kekuasaan penuh dalam kegiatan organisasi sehingga setiap individu mempunyai peran serta dalam pengambilan keputusan.
  • Formalisasi rendah sehingga hubungan yang terjalin lebih harmonis dan kekeluargaan yang membuat produktivitas menjadi tinggi.
Kekurangan dari model ini adalah tidak adanya kejelasan dari pemimpin, sehingga keberhasilan organisasi terletak pada kesadaran setiap tenaga kerja didalamnya.
B.   Model Getzels untuk memberi gambaran tentang organisasi sebagai proses interaksi sosial
Model Getzels dimulai dengan pertimbangan tentang latar belakang yang paling umum dari perilaku antar pribadi atau sosial, yaitu suatu sistem sosial tertentu. Suatu system ialah sekelompok bagian atau badan yang membentuk suatu keseluruhan yang dipersatukan. Jika satu bagian dari sistem berubah, bagian-bagian lain akan berubah atau memaksa bagian yang menyimpang itu menyelaraskan dengan sistem yang ada. Karena suatu sistem ditandai dengan hubungan timbal-balik antara bagian-bagiannya, bagian-bagiannya tersebut hanya bisa dipahami dalam hubungan dengan keseluruhannya. Begitu pula keseluruhannya hanya bisa dipahami dalam hubungan dengan unsur-unsurnya dan bagian-bagian integralnya.
Menurut Getzels, organisasi selaku sistem sosial memiliki dua dimensi, yaitu dimensisosiologi dan dimensi psikologis.
Dimensi sosiologis disebut juga dengan dimensi nomotetis yaitu mengacu kepadalembaganya yang ditandai dengan peranan-peranan dan harapan-harapan tertentu sesuai tujuan-tujuan sistem tersebut.
Sedangkan dimensi psikologis disebut juga dimensi idiografis yaitu mengacu kepada individu-individu yang menempati sistem, masing-masing dengan kepribadian dan disposisi kebutuhan tertentu.
http://winamartiana.files.wordpress.com/2011/09/model-getzel.jpg?w=560
Dimensi nomotetis
Untuk memahami sifat perilaku yang nampak – dan untuk bisa meramalkan dan mengendalikannya – sifat dan hubungan dari unsur-unsurnya harus dipahami.
Istilah organisasi atau lembaga menunjuk kepada badan-badan yang didirikan untuk menjalankan “fungsi-fungsi institusional bagi sistem sosial secara keseluruhan”. Semua lembaga memiliki fungsi-fungsi imperative tertentu yang harus dilaksanakan menurut cara-cara rutin tertentu pula. Fungsi-fungsi ini – seperti memerintah, memeriksa, mengadili, mendidik, dan seterusnya – bisa disebut telah melembaga, dan badan-badan yang didirikan untuk menjalankan fungsi-fungsi yang telah melembaga ini bagi sistem sosial secara keseluruhan bisa disebut “lembaga”.
Suatu bagian yang penting dari lembaga atau organisasi ialah peranan. Peranan ialah “aspek-aspek dinamis dari kedudukan dan jabatan di dalam suatu lembaga”, dan ia menetapkan perilaku para pemegang peranan itu. Di lingkungan sekolah para pemegang peranan ini meliputi kepala kantor pendidikan, pengawas, kepala sekolah, guru, dan personil lain. Peranan didefinisikan dalam kata-kata harapan-harapan, yaitu “kewajiban dan tanggung jawab” yang harus dijalankan oleh pemegang peranan. Harapan-harapan ini menetapkan bagi pemegang peranan, siapa pun pemegang peranan itu, apa yang ia harus dan tidak harus lakukan selama ia pemegang dari peranan tertentu itu.
Suaatu sifat pokok dari peranan-peranan ialah bahwa satu sama lain saling melengkapi. Setiap peranan memperoleh serta maknanya dari peranan lain yang berhubungan. Sifat saling melengkapi inilah yang mempersatukan dua peranan atau lebih menjadi unit yang berpadu dan interaktif, yang memungkinkan kita memahami suatu organisasi sebagai struktur yang karakteristik.
Pada tahap analisa ini para pemegang peranan mungkin dapat dipikirkan selaku “aktor-aktor” yang tidak mempunyai sifat-sifat pribadi, seakan-akan semua pemegang peranan itu semua benar dan seolah-olah menjalankan peranan tertentu dengan cara yang sama. Hal ini memungkinkan pemahaman dan ramalan kasar tertentu mengenai perilaku dalam suatu organisasi.
Dimensi idiografis
Mengetahui sekedar sifat peranan dan harapan di dalam suatu lembaga tidak cukup, peranan-peranan itu ditempati oleh individu-individu yang nyata, dan tidak ada individu yang sama. Setiap inidividu memberi sifat khas kepada peranan yang ditempatinya itu dengan gaya unik dari pola kepribadiannya yang karakteristik. Singkatnya, sebagai tambahan kepada aspek nomotetis atau institusional, aspek-aspek idiografis dan psikologis haus dipertimbangkan juga. Dimensi individu bisa dianalisa menjadi unsure-unsur kepribadian dan diposisi kebutuhan.
Suatu perbuatan diturunkan serentak dari dimensi-dimensi iidiografis dan nomotetis.  Artinya, perilaku sosial terjadi bila seseorang berusaha untuk mengatasi suatu lingkungan yang terdiri dari pola harapan bagi perilakunya dengan cara yang cocok dengan pola kebutuhannya sendiri. Jadi dapat dikatakan bahwa perilaku dalam organisasi adalah suatu fungsi dari perana institusional tertentu yang ditetapkan oleh harapan-harapan yang dikaitkan kepadanya, dan kepribadian dari pemegang peranan tertentu yang ditetapkan oleh disposisi kebutuhannya. Pada waktu yang sama dimensi individual dari organisasi menuntut terpenuhinya kebutuhan dan keinginan indivisual sehingga organisasi bisa menjadi efisien dan efektif.
Perluasan Model; Dimensi antropologis
Dengan memfokuskan kepada dimensi sosiologis dengan konsep peranan dan dimensi psikologis dengan konsep kepribadian orang mudah melupakan dimensi dan variable perilaku sosial lain. Sehubungan dengan itu Getzels memperingatkan adanya perangkat konsep lain yang diturunkan dari dimensi antropologis yaitu dimensi kultural.
Getzel dan Thelen, menyadari keterbatasan konsep proses sosial itu, telah mengembangkan suatu dimensi baru yang dimaksudkan untuk melukiskan dengan lebih memadai kenyataan organisasi di lingkungan masyarakat yang lebih luas lagi. Lembaga/organisasi dan individu bisa dilihat dalam kata-kata kultural, mengingat mereka terpancang dalam suatu kultur dengan tradisi dan nilai-nilainya yang spesifik. Sehingga, sifat peranan-peranan institusional dan kepribadian individu berkaitan dengan tradisi yang spesifik dari kultur itu, dan harapan-harapan serta disposisi kebutuhan dengan nilai-nilainya.
Guru, misalnya, tidak bisa mengabdikan dirinya dengan efektif kepada pendidikan kecerdasan akal biila jenis pendidikan serupa itu tidak didukung oleh tradisi. Murid tidak bisa diharapkan akan mengejar prestasi belajar yang optimum di sekolah, jika prestasi optimum bukan suatu nilai kultural. Dalam pengertian inilah harus diingat bahwa bersamaan dengan dimensi-dimensi sosiologis dan psikologis itu berinteraksi dengan dimensi kultural atau antropologis.

Penutup
Organisasi dikatakan sebagai suatu sistem sosial, karena organisasi merupakan suatu wadah yang merupakan tempat orang berinteraksi yang terdiri dari dua orang atau lebih yang mempunyai peran dan fungsi masing-masing dalam organisasi tersebut dan mempunyai tujuan dari proses interaksi mereka, sedangkan dalam pelaksanaannya organisasi tidak terlepas dari keadaan sosial atau masyarakat, yang artinya organisasi bersifat terbuka. Sistem sosial yang dimaksudkan adalah organisasi tersebut disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat, sehingga terdapat hubungan antara organisasi dan masyarakat.
Sedangkan masyarakat adalah kumpulan individu-individu dalam suatu tempat yang berlangsung untuk jangka waktu yang sangat lama bahkan seumur hidup dan terjadi proses interaksi diantara mereka sehingga terjadi atau terbnetuk suatu peraturan-peraturan yang mengikat kehidupan mereka. Maka dari pada itu, Getzels dan Guba, menggambarkan organisasi sebagai sistem sosial yang dilihat dari proses interaksi sosialnya yang dilakukan oleh seorang pemimpin yaitu terdapat interaksi yang sangat jelas antara lembaga dan individu atau para anggota organisasi yang merupakan bagian dari masyarakat dalam menjalankan suatu organisasi.
Oleh karena itu, organisasi sebagai sistem sosial perlu dipejari dalam kajian perilaku organisasi karena kajian perilaku organisasi juga menyangkut pada perilaku atau kondisi masyarakat yang dapat mempengaruhi pada perilaku individu dan kelompok dalam organisasi.

Daftar Referensi
Nasikin. (2006). Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: PT Grafindo Persada.
Sutisna, Oteng. (1985). Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis Untuk Praktek Profesional. Bandung: Angkasa.
Patria, Daisy. (2010). Sistem Perilaku Organisasi. [Online]. Tersedia:http://eziekim.wordpress.com/2010/01/09/sistem-perilaku-organisasi/ [20 September 2010].

39. TEORI KOMUNIKASI ORGANISASI



Definisi fungsional : Pertunjukan dan penafsiran pesan diantara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu. Suatu organisasi terdiri dari unit-unit komunikasi dalam hubungan-hubungan hierarkis antara yang satu dengan lainnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan.
Definisi interpretif : Proses penciptaan makna atas interaksi yang merupakan organisasi. Kom. Organisasi adalah proses penciptaan makna atas interaksi yang menciptakan, memelihara dan mengubah organisasi.
Perspektif komunikasi : Organisasi tidak terbentuk karena adanya surat / dokumen persetujuan, tetapi organisasi ada sejak adanya interaksi/komunikasi tertentu diantara orang-orang yang menunjukkan bahwa mereka tengah berorganisasi.
A. TEORI ORGANISASI KLASIK
Konsep tentang organisasi sebenarnya telah berkembang mulai tahun. 1800an dan konsep-konsep ini sekarang dikenal sebagai teori klasik (classical theory) atau kadang-kadang disebut juga teori tradisional atau teori struktural klasik. Dampak teori klasik pada organisasi telah dan masih dirasakan sangat besar. Sebagai contoh organisasi yang didasarkan birokrasi dan banyak bagian dari teori klasik.
Dasar-dasar organisasi klasik
1.Kekuasaan, bisa demokratis atau otokratis
2.Saling melayani-merupakan legitimasi sosial pada organisasi. Setiap organisasi ada dan diakui oleh masyarakat umum
3.Doktrin-rumusan tujuan organisasi
4.Disiplin- perilaku yang ditentukan oleh perintah atau pengendalian diri.
B. TEORI ORGANISASI NEOKLASIK
Hugo Munsterberg menekankan adanya perbedaan-perbedaan karakteristik individu dalam organisasi-organisasi. Sebagai tambahan Munsterberg mengingatkan adanya pengaruh faktor-faktor sosial dan budaya terhdap organisasi.
Titik tekanan teori neoklasik adalah pada 2 elemen pokok dalam organisasi: perilaku individu dan kelompok pekerja.
Fenomena organisasi informal: orang-orang yang bergabung menjadi suatu kelompok; kelompok alamiah yang terbentuk sebagai hasil interaksi diantar para karyawan.
Faktor-faktor yang menentukan munculnya organisasi formal:
1.Lokasi
2.Jenis Pekerjaan
3.Minat (Interests)
4.Masalah-masalah khusus
1. TEORI PERILAKU
Teori perilaku atau the behavior theory of organitation, berpendapat bahwa ada tidaknya, baik buruknya, suatu organisasi itu tergantung dari sikap kelakuan para anggotanya. Salah seorang penganut teori ini yang terkenal adalah Herbert A. Simon dalam bukunya ‘’Administrative Behaviour”.
Namun, sejak Barnard (1938) mempublikasikan “the function of the executive”, pikiran-pikiran baru muncul. Ia menyatakan bahwa organisasi adalah system orang, bukan struktur yang direkayasa secara mekanis. Masalah organisasi terpenting menurut penganut teori ini adalah bagaimana membuat para warga organisasi itu bersikap, berpikir dan bertingkah laku sebagai manusia organisasi yang tepat.
Barnard juga menyatakan bahwa kewenangan merupakan suatu fungsi kemauan untuk bekerja sama. 4 syarat yang harus dipenuhi sebelum seseorang menerima suatu pesan yang otoritatif :
1.memahami pesan
2.percaya bahwa pesan tersebut tidak bertentangan dengan tujuan organisasi
3.percaya, pada saat memutuskan untuk kerja sama, pesan yang dimaksud sesuai dengan minatnya
4.memiliki kemampuan fisik dan mental untuk melaksanakan pesan
2. TEORI SISTEM
Teori sistem memandang organisasi sebagai kaitan bermacam-macam komponen yang saling tergantung satu sama lain dalam mencapai tujuan organisasi. Setiap bagian mempunyai peranan masing-masing dan berhubungan dengan bagian-bagian lain dan karena itu koordinasi penting dalam teori ini.
Teori sistem adalah seperangkat prinsip yang terorganisasikan secara longgar dan sangat abstrak, yang berfungsi mengarahkan pikiran kita namun terikat pada berbagai penafsiran. (Fisher ; 1978)
Teori sistem menangani hakikat saling hubungan yang kompleks dari organisasi manusia dan menguraikan bagaimana organisasi bertumbuh dan berkembang. Tipe komunikasi yang dominan dalam organisasi yang menggunakan teori ini adalah komunikasi horizontal, baik dalam lingkungan organisasi maupun antara organisasi dengan organisasi lainnya.
C. TEORI ORGANISASI MODERN
Aliran besar ketiga dalam teori organisasi adalah teori modern, yang kadang-kadang disebut juga analisa sistem. Teori modern adalah multidisiplin dengan sumbangan dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Interaksi dinamis antar proses, bagian dan fungsi dalam suatu organisasi, maupun dengan orang lain dan dengan lingkungan.
Teori modern mengemukakan bahwa organisasi bukanlah sistem tertutup yang berkaitan dengan lingkungan yang stabil, tetapi organisasi merupakan sistem terbuka yang harus menyesuaikan diri dg lingkungannya.
Teori organisasi modern dan teori sistem umum:
1.Bagian-bagian (individu) dalam sistem keseluruhan dan pergerakan individu di dalam dan di luar sistem
2.Interaksi individu dengan lingkungan yang terjadi dalam sistem
3.Masalah-masalah pertumbuhan dan stabilitas sistem
4.Masalah pertumbuhan dan stabilitas sistem

38. TEORI ORGANISASI MODERN

Dasar Pemikiran Teori Organisasi Modern
Teori modern dengan tekanan pada perpaduan (synthesis) dan perancangan (design), menyediakan pemenuhan suatu kebutuhan yang menyeluruh.
Teori modern bisa disebut sebagai teori organisasi dan manajemen umum yang memadukan teori klasik dan neoklasik dengan konsep-konsep yang lebih maju. Ini dilakukan dengan memandang organisasi sebagai suatu proses dinamis yang terjadi dengan dan dalam hal-hal yang umum, dikendalikan oleh sruktur. Sebagai suatu system, organisasi terdiri atas 3 (tiga) unsur ,yaitu :
1. Unsur struktur yang bersifat makro
2. Unsur proses yang juga bersifat makro
3. Unsur perilaku anggota organisasi yang bersifat mikro.Teori Sistem Umum
Teori sistem umum merupakan suatu aspek analisis organisasi yang berusaha untuk menemukan kaidah-kaidah umum organisasi yang berlaku universal. Tujuannya adalah penciptaan suatu ilmu pengetahuan organisasional universal dengan menggunakan elemen-elemen dan proses-proses umum seluruh system sebagai titk awal.Kenneth Boulding mengemukakan klasifikasi tingkat-tingkat sistem sebagai berikut :
1. Struktur statik
2. Sistem dinamik sederhana
3. Sistem sibernetik
4. Sistem terbuka
5. Sistem genetika social
6. Sistem hewani
7. Sistem manusiawi
8. Sistem sosial
9. Sistem transedental
Teori Organisasi dalam Suatu Kerangka Sistem
Teori organisasi modern adalah multidisipliner yang konsep-konsep dan teknik-tekniknya dikembangkan dari banyak bidang studi. Faktor-faktor yang membedakan kualitas teori organisasi modern dengan teori-teori lainnya adalah dasar konseptual analitiknya, ketergantungannya pada data riset empiric, dan di atas semuanya, sifat pemaduan dan pengintegrasikannya. Kualiatas-kualitas ini merupakan kerangka filosofi yang diterima sebagai suatu cara untuk mempelajari organisasi sebagai suatu system. Bagian-bagian dari system dan saling ketergantungannya.
1. Individu dan struktur kepribadiannya yang diberikan kepada organisasi.
2. Penentuan fungsi-fungsi formal, yang biasa disebut organisasi formal.
3. Organisasi informal.
4. Struktur status dan peranan.
5. Lingkungan phisik pelaksanaan pekerjaan.
Proses-proses hubungan dalam system. Teori organisasi modern menunjukkan tiga kegiatan proses hubungan universal yang selalu muncul pada system manusia dalam perilakunya berorganisasi. Ketiga proses tersebut adalah
1. komunikasi ,
2. berusaha untuk mencapai keseimbangan, dan
3. pengambilan keputusan.
Tujuan-tujuan organisasi
Organisasi mempunyai tiga tujuan utama yang saling berhubungan. Tujuan-tujuan tersebut adalahpertumbuhan, stabilitas, dan interaksi. Ketiga tujuan organisasi itu akan membedakan bentuk organisasi dengan tingkat kompleksitas yang berbeda-beda. Persamaan dalam tujuan-tujuan tersebut juga telah diteliti oleh para ahli sejalan dengan pengembangan teori sistem umum.
Pendekatan – Pendekatan Manajemen
• Pendekatan Proses
Pendekatan proses dalam manajemen juga disebut pendekatan fungsional, operasional, universal, tradisional atau klasik. Para pencetus pendekatan ini bermaksud untuk mengindetifikasikan fungsi-fungsi manajemen dan kemudian menetapkan prinsip-prinsip dasar organisasi dan manajemen. Empat prinsip pendekatan proses klasik yang penting adalah
1) kesatuan perintah
2) persamaan wewenang dan tanggung jawab
3) rentang kendali yang terbatas
4) delegasi pekerjaan-pekerjaan rutin
• Pendekatan Keperilakuan
Pendekatan ini sering disebut pendekatan hubungan manusiawi (human relation approach). Pendekatan hubungan manusiawi dalam usahanya melengkapi pendekatan klasik, banyak menggunakan pandangan sosiologi dan psikologi. Oleh karena itu, pusat bahas pendekatan ini adalah perhatian terhadap para karyawan secara individual dan kelompok kerja.
• Pendekatan Kuantitaif
Pendekatan kuantitif (quantitative approach) sering dinyatakan dengan istilah management science atau operations research. Pendekatan ini terutama memandang manajemen dari perspektif model-model matematis dan proses-proses kuantitaif.
• Pendekatan Sistem
Pendekatan system dalam manajemen merupakan pendekatan yang ditetapkan paling akhir, dan dapat dipahami dengan sudut pandangan teori system umum atau analisis system. Pendekatan system terutama menekankan saling ketergantungan dan keterkaitan bagian-bagian organisasi sebagai keseluruhan. Pendekatan ini memberikan kepada manajemen cara memandang organisasi sebagai keseluruhan dan sebagai bagian lingkungan eksternal yang lebih luas.
• Pendekatan Contingency (Situasional)
Pendekatan Contingency muncul karena ketidakpuasan atas anggapan keuniversalan dan kebutuhan untuk memasukkan berbagai variable lingkungan ke dalam teori dan praktek manajemen. Ada tiga komponen pokok dalam lerangka konseptual untuk pendekatan contingency:
1. Lingkungan
2. Konsep-konsep dan teknik-teknik manajeman
3. Hubungan kontingensi antara keduanya
sumber: Buku ‘Organisasi Perusahaan’, teori struktur dan perilaku oleh: T.Hani Handoko Bab II, Bab III , dan Bab IV

37.TEORI SISTEM TERBUKA DAN TERTUTUP DALAM ORGANISASI

Gambar
Pendahuluan
Berbagai permasalahan besar dan kompleks yang dihadapi pemerintah atau masyarakat baik yang menyangkut masalah Agama, Politik, Ekonomi, Social, Budaya, Pertahanan, Keamanan, dan sebagainya, bila diperhatikan secara seksama masalahnya memang selalu saling terkait satu sama lain atau tidak ada yang berdiri sendiri. Demikian pula berbagai masalah yang terjadi di luar negeri, ternyata langsung ataupun tidak langsung juga mempunyai pengaruh dengan masalah dalam negeri, apalagi dalam era globalisasi ini. Contoh-contoh yang menunjukkan bahwa berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupan itu saling terkait atau berhubungan satu sama lain, memang banyak sekali. Salah satu contoh misalnya dalam masalah bidang pendidikan, ternyata sangat terkait dengan masalah kesejahteraan, lapangan kerja, kependudukan, industry, ekonomi, Teknologi, transfortasi dan lain-lain.
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Dalam menghadapi lingkungan yang semakin komplek terutama pada era globalisasi yang berdampak terhadap meningkatnya tuntutan kemampuan bersaing bagi setiap bangsa atau Negara agar dapat tetap bertahan atau lebih maju, maka kemampuan pendidkan dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah serta kemampuan manajerial yang efektif bagi setiap pimpinan atau manajer dari suatu organisasi yang besar, menjadi suatu tuntutan yang harus dikuasai dengan baik.
Dengan menyadari bahwa setiap masalah itu tidak berdiri sendiri dan selalu terkait dengan atau berhubungan dengan masalah lain, maka berarti jika kita memecahkan masalah yang satu pasti akan berdampak terhadap masalah yang lain. Sebagai contoh misalnya kita lihat bahwa upaya untuk menekan harga kendaraan agar agar dapat terjangkau oleh banyak orang, pada gilirannya akan meningkatkan jumlah kendaraan di jalan raya dan jika hal ini tidak diikuti dengan penambahan ruas jalan maka kemacetan lalu lintas akan semakin parah.
Mengingat hampir tidak ada suatu masalah yang berdiri sendiri, maka semua pimpinan atau manajer yang bertanggung jawab dalam suatu organisasi diharapkan perlu menggunakan pendekatan yang menyeluruh dalam proses pengambilan keputusan terutama dalam menentukan tujuan, mengalokasikan sumber daya, dan membuat perencanaan. Proses pengambilan keputusan yang dilakukan harus memperhatikan semua faktor yang terkait dan keputusan yang diambil harus ditekankan kepada upaya untuk mencapai kinerja dari keseluruhan (sistem) organisasi bukan hanya kinerja dari salah satu bagiannya. Peter Senge (1990) berkaitan dengan masalah ini pernah mengingatkan bahwa kita harus melihat hutannya jangan hanya pohon ke pohon. Artinya dalam menghadapi suatu persoalan kita jangan hanya memperhatikan detailnya tetapi juga kedudukan persoalannya dalam persepektif yang lebih luas. Dalam hal ini pendekatan sistem merupakan suatu metodologi yang akan dapat menjawab kebutuhan tersebut.
Pada perkembangannya Maning perdana menteri Kanada menulis tentang ‘’Pendekatan Sistem’’ dan dalam platform politiknya menyatakan : Sebuah hubungan timbal balik ada di antara semua elemen dan para pemilih dari masyarakat. Faktor-faktor yang utama dalam masalah-masalah umum, kebijakan-kebijakan, keputusan-keputusan, dan program-program haruslah selalu dipertimbangkan dan dievaluasi sebagai ketergantungan antar komponen dari seluruh sistem.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, pada makalah ini kami hanya akan membahas masalah perkembangan filosofi, dan teori sistem dalam perspektif keilmuan.
Sejarah Perkembangan Teori Sistem
Kata Sistem dalam maknanya di sini, memiliki sejarah panjang yang dapat ditelusuri kembali ke Plato (Philebus), Aristoteles (Politik) dan Euclid (Unsur). Sistem pada saat itu berarti “total”, “orang banyak” atau “serikat” pada zaman kuno, karena berasal dari kata kerja sunìstemi, menyatukan, menempatkan bersama-sama. “Sistem” berarti “sesuatu untuk melihat”. Dalam filsafat, sebelum Descartes, tidak ada kata “sistem”. Plato tidak memiliki “sistem”. Aristoteles tidak memiliki “sistem”.[1]  Pada abad ke-19 yang pertama kali mengembangkan konsep “sistem” dalam ilmu alam adalah fisikawan Perancis Nicolas Leonard Sadi Carnot yang belajar termodinamika. Pada tahun 1824 ia mempelajari sistem yang ia sebut substansi kerja, yaitu struktur uap air, di mesin uap, dalam hal kemampuan sistem untuk melakukan pekerjaan ketika panas diterapkan untuk itu. Substansi kerja dapat dimasukkan ke dalam kontak dengan baik boiler, reservoir dingin (aliran air dingin), atau piston (yang diterima oleh tubuh pekerja dapat melakukan pekerjaan dengan mendorong di atasnya). Pada tahun 1850, fisikawan Jerman Rudolf Clausius umum gambar ini untuk memasukkan konsep lingkungan dan mulai menggunakan “Struktur yang bekerja” istilah tersebut mengacu ke sistem.
Salah satu pelopor dari teori sistem umum adalah ahli biologi Ludwig von Bertalanffy. Pada 1945 ia memperkenalkan model, prinsip, dan hukum yang berlaku bagi sistem umum atau subclass mereka, terlepas dari jenis khusus mereka, sifat dari unsur-unsur komponen mereka, dan hubungan atau ‘kekuatan’ di antara mereka. Perkembangan yang signifikan dengan konsep sistem dilakukan olehNorbert Wiener dan Ross Ashby yang memelopori penggunaan matematika untuk mempelajari sistem. Pada 1980-an sistem adaptif kompleks jangka diciptakan di Santa Fe Institute interdisipliner oleh John H. Holland, Murray Gell-Mann dan lainnya.[2]
Teori Sistem  umum hadir pertama kali di dahului dengan adanya teori cibernatika, sistem keteknikan dan bidang pengetahuan yang saling berhubungan. Pengertian sistem mempunyai sejarah panjang, walaupun kondisi sistem tidak mengutamakan sejarah dari pengertian yang meliputi banyak nama dan ilustrasi. Nicolas dari cusa’s Deludo globy, Bertalanffy dan Hermann Hasse’s Glasperlenspiel yang mengamati bahwa pengerjaan dunia di refleksikan dalam sebuah desain yang cakap dan permainan yang abstrak. Menurut Kohler sebuah  teori sistem dimaksudkan untuk lebih mengerjakan sifat yang paling umum seperti properti organik daripada sistem organik untuk satu derajat, permintaan ini dipenuhi dengan teori sistem terbuka.
Kemampuan mengerjakan disebabkan oleh berbagai perkembangan teoritis baru, epistemologis, matematis dan lain–lain. Dalam hubungannya dengan pekerjaan eksperimen pada metabolisme dan pertumbuhan pada satu sisi dan sebuah usaha untuk mengkongkretkan sebuah program organismik pada sisi yang lain, teori sistem terbuka adalah sebuah lanjutan berdasar pada fakta yang biasa bahwa organisme adalah suatu sistem terbuka. Seiring dengan perkembangan waktu keberadaan teori sistem  mulai di perhitungkan, kemudian ada usaha untuk menginterpretasikan ilmu pengetahuan dan teori yang sebelumnya belum pernah dilakukan, dan generalisasi yang lebih tinggi daripada yang terdapat pada ilmu pengetahuan khusus. Teori Sistem  umum ditanggapi sebagai sebuah trend rahasia dalam berbagai disiplin. Teori sistem sering diidentikkan dengan teori cybernatika dan control, hal ini tentu saja tidak benar. Sebab Cybernatika adalah berpikir kesisteman yang beranggapan bahwa manusia dan masyarakat  dapat dipahami melalui kajian terhadap pesan fasilitas komunikasinya. Pemahaman akan peran umpan balik dan dampaknya merupakan titik sentral dari pembahasan teori sistem, Konsep kotak hitam (black box) dan negative fedd back yang  dapat digunakan untuk memahami dan memperbaiki suatu sistem yang kompleks seperti organisasi, banyak dibahas dalam ilmu ini.Cybernatika merupakan sebuah bagian dari sebuah teori  sistem  umum dan sistem merupakan kasus spesial yang penting dari teori sistim.
Tinjauan Umum Teori Sistem
Upaya mendeskripsikan, menjelaskan dan memprediksi perilaku organisasi umumnya berasal dari teori sistem. Seorang biolog Ludwig von Bertalanffy menyatakan bahwa teori sistem dapat dianalogikan dengan sistem yang ada pada organisme. Organisme sel itu terdiri atas sel-sel, dan sel-sel membentuk suatu molekul. Tiap bagian yang ada membentuk sistem yang terintegrasi dan terdiri dari struktur yang saling bergantungan dan bekerja secara harmonis. Tiap molekul tahu tugas masing-masing dan harus dapat bekerjasama serta memenuhi aturan yang ada. Hukum keteraturan merupakan konsep yang bersifat menyeluruh. Ide tentang keteraturan merupakan ide dasar dalam memahami dan menganalisis situasi yang kompleks.
Teori sistem memiliki dua konsep dasar yaitu pertama, konsep subsistem yang melihat hubungan antar bagian sebagai hubungan sebab akibat. Konsep kedua memandang sebab jamak (multiple causation) sebagai hubungan yang saling berkaitan yakni tiap bagian merupakan kompleks (kumpulan) yang tiap faktornya saling berkaitan.[3]
Teori Sistem Sosial; Teori Peran, Konsep Peranan dan hubungannya dengan Teori Sistem Sosial. Ada dua pola sistem yakni open system (sistem terbuka) dan closed system (sistem tertutup) dalam konteks hubungan organisasi dengan lingkungan eksternal. Suatu sistem adalah “terbuka”, jika mempunyai transaksi dengan lingkungan mana ia berada. Transaksi antara suatu organisasi dengan lingkungannya mencakup “input” dan “output”. Input biasanya dalam bentuk informasi, energi, uang, pegawai, material dan perlengkapan yang diterima organisasi dari lingkungannya. Output organisasi pada lingkungannya dapat berbentuk macam-macam tergantung pada sifat organisasi[4] Hubungan pada tiap aspek input dan output yang ada di sekolah dengan lingkungan yang lebih luas merupakan suatu interaksi yang membentuk siklus yang tiada akhir.
Konsep input-output sering disebut sebagai model linear, yaitu teori yang menjelaskan bagaimana sistem dapat dijelaskan dalam konteks dunia nyata. Suatu teori yang beranjak dari konsep umum ke khusus yang tampak logis, rasional dan teratur berupaya untuk mencari jawaban terhadap upaya menghubungkan nilai input dan nilai output sehingga menghasilkan efisiensi biaya. Dalam konteks sekolah, siswa dan guru berupaya mencapai tujuan formal sekolah dengan keyakinan, tujuan dan harapan. Mereka akan mematuhi hukum, aturan dan disiplin agar dapat mempertahankan diri daripada memikirkan komitmen yang tidak jelas. Pendekatan lain dalam memahami organisasi sekolah dan perilaku anggotanya adalah dengan berfokus pada apa yang sebenarnya terjadi. Hal ini berpusat pada proses yang terjadi di dalam yaitu sistem organisasi yang dipandang sebagai sistem total dari konteks yang menggambarkan seluruh pola yang ada.  Organisasi sebagai sistem yang menciptakan dan menjaga lingkungan didalamnya memuat interaksi manusia yang kompleks (baik antar individu maupun dalam kelompok). Organisasi sekolah, misalnya, harus dipandang sebagai hubungan antara perilaku manusia dan konteksnya. Dengan demikian, perilaku organisasi difokuskan pada sekolah sebagai suatu sistem.
Andrew Halpin dan Don Croft meneliti tentang iklim sekolah yang berfokus pada karakteristik internal organisasi sekolah yang seakan terpisah dari pengaruh lingkungan. Hal ini akan memudahkan peneliti karena memisahkan unsur lingkungan sekolah dengan konteks yang lebih luas.
Organisasi dengan sistem terbuka dapat digambarkan seperti fenomena nyala api lilin, sinar yang dipancarkannya akan memengaruhi kondisi lingkungan di sekelilingnya. Daniel Griffiths mengatakan bahwa organisasi (sistem) berada dalam lingkungan (suprasistem) yang didalamnya memuat pula sub sistem (perangkat administrasi dalam organisasi). Batasan antar sub sistem dibuat dengan garis putus-putus yang berarti antar bagian dapat saling menembus (permeable). Antara subsistem yang terlibat dapat saling mempengaruhi lewat hubungan yang interaktif dan adaptif antar komponen. Masalah yang terjadi pada satu bagian dapat menjadi ancaman terhadap fungsi keseluruhan. Adapun karakteristik dari sistem tertutup adalah adanya kecenderungan yang kuat untuk bergerak mencapai suatu keseimbangan dan entropi yang statis. Sifat ini menunjukkan adanya kebekuan atau tepatnya keseimbangan yang beku. Istilah entropi aslinya dipergunakan dalam ilmu-ilmu fisika. Ia mempunyai pengertian dipergunakan pada setiap sistem yang tertutup dengan tidak adanya potensi berikutnya untuk membangkitkan daya kerja atau usaha transformasi[5]
Teori Peran
Erving Goffman menganalogikan situasi kehidupan sehari-hari dengan peran di panggung ketika menganalisis perilaku interpersonal manusia dalam organisasi. Tiap organisasi harus mengartikan peran individu yang terlibat yang dipengaruhi oleh interaksi dinamis dengan orang lain. Seperti aktor dan penonton, peran yang dijalani oleh pimpinan, misalnya dibentuk oleh harapan atasannya dan juga oleh kehadiran orang lain. Kehadiran orang lain (direktur dan orang lain) bertujuan untuk mengontrol situasi dan organisasi agar orang-orang yang terlibat berperilaku seragam (conform).
Adapun beberapa istilah mengenai peran ini sebagai berikut;
  1. Peran adalah konsep psikologis tentang perilaku yang timbul dalam interaksi dengan manusia lain. Tiap posisi membawa harapan tertentu bagi pelaku dan organisasi lain.
  2. Deskripsi peran, yaitu perilaku aktual yang ditunjukkan. Lebih tepat lagi berkaitan dengan lagi persepsi seseorang tentang perilaku yang harus dijalankan.
  3. Peran preskriptif merupakan ide abstrak tentang norma umum yang terdapat dalam budaya tentang peran yang diharapkan.
  4. Harapan peran, yaitu harapan orang lain terhadap peran yang harus dijalankan orang lain, misalnya guru terhadap kepala sekolah, kepala sekolah terhadap guru. Jika mereka berinteraksi artinya mereka memiliki harapan peran yang saling melengkapi (bersifat komplementer).
  5. Persepsi peran, merupakan persepsi yang dimiliki seseorang terhadap peran yang seharusnya dilakukan orang lain.
  6. Peran manifes (nyata) dan peran laten, hal ini berasal dari kenyataan bahwa seseorang mempunyai lebih dari satu peran. Peran manifes merupakan peran yang ditunjukkan, lainnya akan menjadi peran laten.
  7. Konflik peran. Hal ini dapat terjadi dan merupakan sumber dari kinerja yang tidak baik. Contoh nyata dari konflik peran yaitu dua orang tidak mampu untuk membangun hubungan yang memuaskan secara timbal balik. Hal ini bisa berasal dari banyak sebab, yang menimbulkan kebingungan antara harapan peran dan persepsi peran. Konflik peran juga dapat terjadi pada individu yang sama: harapan peran berkonflik dengan kebutuhan pribadi misalnya konflik peran pada kepala sekolah .
  8. Ambiguitas peran. Hal ini dapat terjadi ketika preskripsi peran mengandung elemen yang kontradiktif atau kabur.
Sebagai contoh hal ini dapat dilihat pada perbedaan kerja antara bidang administrasi dan supervisi. Supervisor sering merasa memiliki otoritas hirarki di atas guru. Mereka terkadang harus melawan perannya saat harus melatih dan menghilangkan otoritasnya terhadap guru. Konflik peran dapat menimbulkan tekanan dan ketidakpastian, yaitu suatu ketidakkonsistenan dalam perilaku. Hal ini berdampak pada perilaku yang tidak bisa diprediksi dan tidak bisa diantisipasi terutama bila terjadi tekanan atau konflik interpersonal. Orang yang berada pada situasi ini akan menjadi tidak mampu menghadapi situasi tersebut. Menghadapi situasi yang demikian kadang dilakukan dengan penghindaran, misalnya menghindari diskusi dengan obrolan-obrolan biasa yang tidak penting.
Trend dalam Teori Sistem
            Ketika hal baru di serukan sebagai sesuatu yang revolusioner banyak orang memakai istilah ini untuk menandai perkembangan ilmu pengetahuan.Revolusi adalah proses menjebol tatanan lama sampai ke akar-akarnya, kemudian menggantinya dengan tatanan yang baru. Begitu juga yang di maksud dengan revolusi ilmu pengetahuan  atau revolusi sains muncul jika paradigma yang lama mengalami krisis dan akhirnya orang mencampakkannya serta mencita-gunakan paradigma yang baru yang sekiranya lebih rasional dan logis.
Menurut pendapat Kuhn revolusi ilmu pengetahuan ditentukan  oleh adanya paradigma yang mengakibatkan perubahan konsep, sehingga ilmu pun terus berubah. Peran paradigma dalam perkembangan ilmu penetahuan sangat  penting, karena paradigma itulah yang menjiwai sebuah konsep. Dalam hal ini masalah sistem merupakan hal yang penting dalam pembatasan masalah pada prosedur analisis ilmu pengetahuan. Aplikasi prosedur analisis tergantung pada dua kondisi yang pertama interaksi antara bagian yang tidak ada atau cukup lemah untuk dibiarkan dalam tujuan penelitian tertentu. Yang kedua dalam hubungannya dengan menerangkan perilaku bagian haruslah linier.
 Teori Sistem  Klasik
Teori Sistem Klasik menambahkan  matematika klasik seperti kalkulus dengan tujuan untuk menyatakan prinsip yang digunakan pada sistem umum atau sub kelas yang ditentukan  (misalnya, sistem tertutup dan sistem terbuka), untuk menyediakan teknik dalam penelitian dan deskripsi, serta untuk menerapkan kasus-kasus konkret Karena sifat umum dari deskripsi tersebut. sehingga dapat dinyatakan bahwa sifat formal tertentu akan berlaku untuk setiap entitas sistem   ( sistem terbuka, atau sistem hirarkis, dll). Berbagai teori pendukungpun bermunculan untuk melengkapi pengaplikasian teori sistem umum antara lain : Teori Bagian, Teori Set, Teori Grafik, Teori Jaringan, Cibernetika, Teori Informasi, Teori Automata, Teori Permainan, Teori Keputusan, dan Teori Pengantrian.
Arti Teori Sistem Umum
Ilmu modern dikarakterkan oleh spesialisasinya yang pernah meningkat, diharuskan dengan banyaknya jumlah data, kompleksitas tehnik dan struktur teoritis di semua bidang. Pada acara ini, kita merumuskan disiplin ilmu baru yang disebut “Teori Sistem Umum”. Pemikiran teori ini mengenai pembangunan model teoritis model kesisteman yang dasarnya terletak  diantara teori umum matematika murni dan teori disiplin ilmu tertentu. Pada teori sistem umum, subjek masalahnya adalah pada perumusan dan derivasi prinsip-prinsip yang valid untuk “sistem” secara umum. Arti disiplin ini dapat dikondisikan sebagai berikut : Fisika dihubungkan dengan sistem level-level generalitas yang berbeda. Ini diperluas dari sistem yang agak khusus, seperti yang diaplikasikan oleh insinyur pada konstruksi jembatan atau mesin, pada hukum khusus disiplin ilmu fisika seperti mekanik atau optik; pada hukum generalitas besar seperti prinsip termodinamika yang diaplikasikan pada sistem yang berbeda sifatnya secara intrisik, mekanik, kalorik, kimia atau yang lain. Dengan mendefinisikan konsep sistem, kita akan tahu bahwa model, prinsip dan hukum yang ada itu diaplikasikan pada sistem yang digeneralkan yang mengabaikan jenis, elemen dan “kekuatan” khusus yang terlibat.
Tujuan Teori Sistem Umum
Teori sistem umum merupakan keseluruhan yang sampai sekarang masih dianggap sebagai konsep yang semimetafisik dan tidak jelas. Dalam bentuk yang berelaborasi ini akan menjadi disiplin logis matematika secara formal tetapi dapat di aplikasikan pada berbagai ilmu empiris karena berhubungan dengan ‘’keseluruhan yang teroganisir’’ ini akan menjadi signifikasi yang hampir sama dengan yang dimiliki teori probabilitas untuk ilmu yang berhubungan dengan ‘’peristiwa kesempatan’’ yang berikutnya juga adalah disiplin matematika formal yang dapat diaplikasikan pada bidang yang paling berbeda, seperti termodinamika, percobaan biologi dan medis, genetik, statistik asuransi hidup dan sebagainya. Indikasi tujuan teori sistem umum, adalah sebagai berikut :
1. Ada tendensi umum melalui integrasi dalam berbagai ilmu alam dan sosial.
2. Beberapa integrasi nampaknya menjadi pusat dalam teori sistem umum.
3. Menjadi sarana penting untuk membidik pada teori yang tepat dalam bidang  ilmu pengetahuan nonfisik
4. Mengembangkan prinsip kesatuan yang dijalankan secara vertikal melalui universalnya ilmu individu, teori ini membawa kita lebih dekat pada tujuan kesatuan ilmu.
5. Lebih mengarah pada dibutuhkannya integrasi dalam pendidikan ilmiah.
 Sistem Terbuka dan Sistem Tertutup
Fisika konvensional hanya berkenaan  dengan sistem tertutup,  yang terisolasi terhadap lingkungan. Dalam teori kimia fisis dijelaskan reaksi-reaksi, rata-rata dan kesetimbangan kimia yang ditetapkan dalam bejana tertutup dimana sejumlah reaktan dijadikan satu. Hukum termodinamika menyatakan bahwa hukum tersebut hanya diterapkan pada sistem tertutup saja. Sedangkan setiap organisme yang hidup pada dasarnya merupakan sistem yang terbuka. Mereka mempertahankan diri dalam sebuah pemasukan dan pengeluaran yang berkesinambungan, pembangunan dan kerusakan komponen-komponen, tidak pernah selama hidupnya berada dalam kesetimbangan kimiawi dan termodinamis, tapi tetap berada dalam sebuah keadaan tetap yang berbeda jauh dengan keadaan sebelumnya. Perumusan fisika yang terjadi tidak dapat dipakai oleh organisme hidup dengan sistem terbuka dan keadaan tetap, dan kita juga bisa menduga bahwa karakteristik sistem kehidupan yang beraneka ragam berlawanan asas dalam pandangan hukum-hukum fisika yang merupakan sebuah konsekuensi dari fakta ini.
Hubungan Sebab Akibat dan Teleologi
Tujuan ilmu pengetahuan sepertinya menjadi analitis yaitu pemecahan realitas menjadi unit-unit yang lebih kecil dan isolasi deretan hubungan sebab akibat yang inidvidualis. Karakteristik ilmu pengetahuan modern yang dipolakan menjadi unit-unit yang dapat dijauhkan dari hubungan sebab akibat telah terbukti tidak mencukupi, oleh sebab itu realitas dalam semua bidang ilmu pengetahuan, gagasan seperti keseluruhan, holistik, organisme, gestalt dan sebagainya, semuanya menandakan bahwa kita harus berfikir dalam terminologi sistem-sistem elemen dalam interaksi satu sama lain.
Sama halnya, gagasan teologi , terlihat seperti di luar jangkauan ilmu pengetahuan dan menjadi tempat bermain bagi hal-hal yang misterius, supranatural, asing bagi pengalihan ilmu pengetahuan , pemusatan pikiran bagi para peneliti yang percuma pada alam yang diatur oleh hukum-hukum yang tidak jelas tujuannya
Teleologi merupakan sebuah studi tentang gejala-gejala yang memperlihatkan keteraturan, rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana hal-hal ini dicapai dalam suatu proses perkembangan. Dalam arti umum, teleologi merupakan sebuah studi filosofis mengenai bukti perencanaan, fungsi, atau tujuan di alam maupun dalam sejarah. Dalam bidang lain, teleologi merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi tujuan dan “kebijaksanaan” objektif di luarmanusia.
 Beberapa Konsep Sistem.
Konsep sistem menyatakan bahwa sebuah sistem dapat ditetapkan sebagai sekumpulan elemen atau unsur yang berdiri di dalam interrelasi. Sistem dapat ditetapkan secara matematis dengan berbagai cara. Sebagai ilustrasi, dapat dipilih sistem dari persamaan-persamaan diferensial simultan. Tak ada pembicaraan masalah finalitas yang mendetail, tetapi dapat disampaikan tipe finalitas, antara lain :
1. Teleologi statis, berarti bahwa persesuaian berguna bagi tujuan tertentu.
2. Teleologi dinamis, berarti kelangsungan proses-proses.
Ada tiga prasyarat untuk keberadaan isomorfik dalam bidang dan ilmu pengetahuan yang berbeda, yaitu adanya analogis-analogis, homologis, dan penjelasan. Analogis secara ilmiah mungkin kurang bermanfaat, namun homologis sebaliknya seringkali menghadirkan model-model bernilai, sehingga secara luas dapat diterapkan dalam fisika. Sementara secara filsafat, bentuk teori sistem umum dalam  perkembangannya akan menggantikan apa yang dikenal dengan teori kategori.
 Kesatuan dalam Ilmu Pengetahuan
Selanjutnya seluruh hasil utama penyajian sebagai Kesatuan Ilmu Pengetahuan dapat kita rangkum sebagai berikut :
1. Analisis prinsip sistem umum memperlihatkan banyak konsep yang merupakan hasil     dari definisi sistem atau hasil kondisi sistem tertentu.
2. Investigasi ini merupakan prasyarat bermanfaat yang berkaitan dengan masalah nyata     dalam ilmu pengetahuan.
3. Investigasi sama pentingnya dengan filsafat ilmu pengetahuan.
4. Fakta bahwa prinsip-prinsip diterapkan dalam sistem secara umum.
Dari sudut pandang kita, Kesatuan dalam Ilmu Pengetahuan memang terbukti nyata pada saat yang sama juga merupakan aspek yang lebih kentara. Realita dalam gagasan modern merupakan suatu urutan hirarkhis yang besar dari entitas terorganisir, mencakup seluruh tingkat dari sistem fisika, kimia hingga biologi. Penjelasan teori sistem umum pada masa yang akan datang, akan menjadi langkah utama terhadap penyatuan ilmu pengetahuan, dan akan memainkan peranan sama dengan logikaAristoteles dalam ilmu pengetahuan antiquiti. Dalam ilmu pengetahuan modern, interaksi dinamis menjadi suatu masalah besar dalam seluruh bidang realita dan prinsip-prinsip umumnya harus ditetapkan dengan teori sistem.
Metode-metode dalam Penelitian Sistem Umum
Metode-metode Penelitian Sistem Umum, sebagaimana digarisbawahi oleh Ashby (1958) terdapat dua metode dalam studi sistem :
1. Metode pertama bersifat empiriko-intuitif, metode ini dikembangkan oleh Von Bartalanffy dan rekan-rekannya, dengan obyek amatannya yaitu zoologi dan psikologi. Metode ini dengan mengamati berbagai sistim yang terjadi dalam dunia yang diamati kemudian membuat pernyataan mengenai keteraturan yang telah diamati. Metode ini memiliki keunggulan yaitu mendekati dengan realita dan dapat dengan mudah diilustrasikan atau dijelaskan dengan contoh-contoh yang diambil dari bidang ilmu pengetahuan individual.
2. Metode kedua mempelajari serangkaian dengan metode deduktif, metode ini mempelajari serangkaian sistim yang dapat mungkin dan kemudian mengurangi rangkaian tersebut menjadi ukuran yang dikehendaki. Metode ini diikuti oleh Ashby (1958). yang meneliti tentang konsep fundamental mesin dan menjawab pertanyaan dengan menyatakan kondisi internal dan kondisi lingkungannya akan menentukan kondisi selanjutnya yang akan ada. Jika variabel bersifat berkelanjutan, definisi ini berkoresponden dengan deskripsi suatu system dinamis oleh serangkaian persamaan diferensial dengan waktu sebagai veriabel bebas.
Teori Sistem Terbuka
Teori sistem terbuka merupakan generalisasi yang penting dari teori fisik kinetik dan thermodinamik. Teori ini telah menghasilkan suatu prinsip dan wawasan baru seperti misalnya prinsip equifinalitas, generalisasi prinsip thermodinamik kedua, peningkatan keteraturan yang mungkin dalam sistem terbuka terjadinya fenomena periodis, overshoot dan kesalahan permulaan dan lain-lain. Konsep sistem terbuka menemukan aplikasinya dalam ilmu pengetahuan tentang bumi, geomorphologi dan meteorologi dengan memberikan suatu perbandingan terperinci dari suatu konsep meteorologis dan konsep organismik Bertalanffy dalam bidang biologi.
Organisme yang dianggap sebagai Sitem Fisik
Organisme sebagai sistem terbuka. Dengan memperhatikan organisme sebagai keseluruhan, ia menampakkan ciri-ciri sama dengan ciri sistem pada keseimbangan menurut Zwaardemaker. Menururt pendapat Hopkins , “Hidup adalah satu keseimbangan dinamis di dalam sistem polyfasik”. Oleh karena itu dibutuhkan definisi dari apa yang disebut keseimbangan tidak berubah. Jelas, prinsip-prinsip umum seperti yang sedang dikembangkan tak dapat memberikan penjelasan rinci tentang permasalahan tersebut, namun dapat menunjukkan dasar-dasar fisik umum dari ciri kehidupan yang hakiki, termasuk pengaturan diri metabolisme dan penetapan dalam perubahan komponen-komponen. Ciri-ciri umum sistem-sistem kimia terbuka, menunjukkan bahwa, ekuilibria nyata pada sistem tertutup dan ekuilibria tidak bergerak pada sistem-sistem terbuka memperlihatkan kesamaan tertentu. Sistem tertutup harus mempertahankan keadaan seimbang bebas waktu yang ditetapkan oleh maksimum entropy dan minimum bebas energi, dimana rasio antara dua fase tetap konstan.
Model Sistem Terbuka.
Ada suatu perbedaan yang fundamental antara organisme yang hidup dan organisme yang mati. Biasanya kita tidak memiliki kesulitan dalam membedakan antara organisme hidup dan obyek yang mati. Dalam makluk hidup, proses kimia dan fisik yang tidak terbatas jumlahnya sangat “teratur/terarah”, sehingga memungkinkan suatu sistem yang hidup untuk bertahan, tumbuh, berkembang, dan bereproduksi.
Pada bagian ini akan kita bahas mengenai mesin hidup dan keterbatasannya. Pada abad tujuh belas, ketika Descartes mengenalkan konsep hewan sebagai mesin, diperkenalkan pula mesin uap dan thermodinamik yang menghasilkan adanya pandangan bahwa organisme dianggap sebagai mesin pemanas, sehingga menghasilkan gagasan perhitungan kalori dan hal-hal lainnya. Namun demikian organisme bukanlah suatu mesin pemanas yang mengubah energi bahan bakar menjadi panas dan kemudian menjadi energi mekanik. Organisme adalah suatu mesin chemodinamik yang secara langsung mengubah energi bahan bakar menjadi kerja yang efektif, yang merupakan suatu fakta bahwa teori tindakan otot ini didasarkan. Selanjutnya, mesin yang dapat mengatur sendiri kemudian dikenalkan, seperti thermostat. Sehingga organisme menjadi suatu mesin cibernetik, yang merupakan penjelasan dari homeostatis dan fenomena yang berkaitan.
Terlepas dari keberhasilannya model mesin organisme memiliki kesulitan dan keterbatasan sebagai berikut :
1. Ada keraguan mengenai asal mula mesin khususnya dalam pemikiran fisik. Descartes lama tidak masalah karena mesin hewannya merupakan ciptaan Tuhan, namun bagaimanakah mesin-mesin tersebut terjadi dialam semesta yang merupakan kejadian psiko-kimia yang tidak langsung?
2. Ada suatu masalah mengenai keteraturan setelah terjadi gangguan arbitrer. Masalah akan timbul mengenai pengaturan dan perbaikan setelah terjadi gangguan arbiter, mesin yang memperbaiki sendiri mungkin dapat dibenarkan dari sudut teori automata modern tapi dapatkah suatu mesin hidup, katakan suatu embrio atau otak dapat diprogram untuk melakukan perbaikan sendiri setelah mengalami ganguan?
3. Struktur organisme organisme hidup melakukan pertukaran komponen secara terus menerus melalui metabolisme, hal ini tidak bisa dilakukan oleh mesin dengan bahan bakarnya.
Beberapa Aspek Teori Sistem dalam Biologi.
Menurut pendapat umum, terdapat perbedaan mendasar antara “fakta-fakta yang diamati” di satu pihak yang merupakan landasan kuat ilmu pengetahuan yang tak dapat dipertanyakan yang dikumpulkan dalam sejumlah jurnal ilmiah yang tercetak dan “hanya teori” di pihak lain yang merupakan produk spekulasi. Ada empat model yang mendasari di bidang metabolisme kuantitatif yakni model-model organisme sebagai sistem terbuka, keadaan tetap homeostatis, alometri, dan yang disebut sebagai model pertumbuhan Bertalanffy. Model-model tersebut digunakan agak lebih luas dan dapat menggambarkan kerangka konseptual dan juga kerangka yang lain. Adapun aspek-aspek teori sistem dalam biologi meliputi :
1. Teori-teori tentang sistem-sistem terbuka, feedback, allometry dan pertumbuhan      dikupas dalam hubungannya dengan aplikasi-aplikasi eksperimentalnya.
2. Sistem terbuka dan feedback berlaku luas untuk fenomena di dalam fisiologi dan      memberikan perluasan-perluasan hakiki teori fisika.
3. Persamaan allometriks memberikan hubungan memungkinkan paling sederhana antara     ukuran tubuh dengan proses-proses metabolik.
4. Hubungan antara ukuran tubuh dengan tingkat metabolis mungkin terjadi : a. pada     jaringan atau species yang berbeda, b. pada perubahan kondisi fisiologis, c. pada     desain eksperimental yang berbeda.
5. Dependensi ukuran total metabolisme pada mamalia berada di bawah kondisi-kondisi     basal berbeda.
6. Dengan mempergunakan model Bertalanffy persamaan pertumbuhan menjadi sangat     sederhana.
7. Variasi-variasi musiman tingkat-tingkat metabolis dan tingkat-tingkat pertumbuhan      nampaknya menunjukkan saling kecocokan.
Konsep Sistem pada Ilmu Pengetahuan Manusia
Adanya pandangan dasar dunia sebagai organisasi dengan ditandai timbulnya paket disiplin ilmu baru seperti ciberkinetik, teori informasi, teori sistem general, teori permainan, keputusan, antrian, pada penerapan praktek, sistem analisis, sistem keteknikan, operasi penelitian dan lain-lain. Oleh karena itu munculnya sejumlah trend konsepsi baru mendatang perlu dipertimbangkan dan didorong oleh pandangan bahwa model robot adalah pandangan kenyataan empiris yang berbahaya terhadap ‘’keteknikan tingkah laku’’. Dalam penerapannya konsep robot sering di aplikasikan secara tertutup dan terbuka dan untuk lebih memahami tentang konsep robot ada beberapa prinsip tentang konsep yang dapat disampaikan sebagai berikut :
1. Satu tuntunan konsep yaitu skema respon-stimulus / rangsangan (skema S-R) perilaku     hewan dan manusia, dianggap sebagai respon terhadap rangsangan yang datang dari     luar.
2. Environmentalism menyatakan (menurut skema S-R) perilaku dan kepribadian     dibentuk oleh pengaruh dari luar.
3. Prinsip keseimbangan menurut formula Freud merupakan ‘’prinsip stabilitas‘’ tentang     pemeliharaan keseimbangan homeostatis.
4.Prinsip ekonomi, menurut faedahnya dan harus dilalui secara ekonomis yaitu    pengeluaran minimum energi mental atau vita.
Konsep dan teori ditunjukkan oleh pendekatan sistem modern terus dikenalkan di sosiologi, seperti konsep sistem umum, umpan balik, informasi, komunikasi, dan lain-lain. Ahli teori fungsional telah menemukan bermacam-macam ekspresi seperti yang dipresentasikan oleh Parsons, Merton, dan teorisi lainnya. Sementara para sejarawan berkeyakinan bahwa ilmu adalah sebuah nomothetik penting yang mengagumkan.
Teori Sistem Umum dalam Psikologi dan Psikiatri
Beberapa tahun terakhir ini, konsep “sistem” telah mencapai peningkatan pengaruh dalam psikologi dan psikiatri. G.W. Allport mengakhiri re-edisi klasiknya dengan “kepribadian sebagai sistem”, Karl Menninger mendasarkan sistem psikiatrinya pada teori sistem umum dan biologi organismik, bahkanRapaport mengatakan ”popularitas itu seperti epidemik dalam psikologi sistem terbuka”.
Konsep “molar” pada orgnisme psikofisika sebagai sistem yang kontras dengan konsepsinya yang hanya sebagai unit “molekular”, seperti refleks, sensasi, pusat otak, dorongan, respon penguat, ancaman, faktor, dan lain-lain. Psikopatologi jelas menunjukkan bahwa disfungsi mental lebih merupakan gangguan sistem daripada sebagai hilangnya fungsi tunggal. Tanpa stimuli eksternal, organisme bukanlah sistem yang pasif tetapi merupakan sistem aktif secara intrinsik. Sementara pada evolusi dan perkembangan, mekanisme reaktif nampak menjadi sangat mengganggu aktivitas ritmitik lokomotor yang primitif. Teori sistem dalam psikologi dan psikiatri bukanlah penemuan baru, dan jika memiliki perasaan de javu seharusnya tidak mengkontradiksikannya dan bermaksud hanya menunjukkan bahwa konsep sistem dalam bidang ini bukan spekulasi. Pandangan dunia ilmiah hanya dapat disinggung pada uraian sebagai brikut :
1.  Konsep sistem menyediakan kerangka teoritis yang netral secara psikofisik. Istilah fisik dan psikofisik, seperti potensi, transmisi kimia pada sinapsis, jaringan neural, dan sebagainya tidak dapat diaplikasikan pada fenomena mental, dan nosi psikologis juga kurang diaplikasikan pada fenomena fisik.
2. Dualisme Cartesian antara masalah dan pikiran tidak benar di antara cahaya       pengalaman fenomenologis langsung dan riset modern di berbagai bidang.
3. Masalah keinginan bebas atau penentuan juga menerima arti baru dan pasti. Ini      merupakan masalah pseudo yang dihasilkan dari kebingungan level pengalaman yang      berbeda pada epistemologi dan metafisika.
4. Tanggung jawab selalu dinilai dalam kerangka nilai simbolik seperti yang diterima      dalam masyarakat di bawah kondisi yang diberikan.
 Relativitas Katagori.
Hipotesis yang ditawarkan oleh Whofr tentang proses kognitif seluruh manusia memiliki struktur logika biasa yang bekerja sebelumnya dan struktur komunikasi secara bebas melalui bahasa adalah merupakan sebuah kesalahan. Sementara menurut tesis aliran Kant, ada bentuk intuisi, ruang dan waktu, dan katagori intelek, seperti substansi, kauslitas dan lainya yang melibatkan universal untuk menjadi bersifat rasional. Karena itu sains, yang berdasarkan katagori-katagori ini sama universal.Menurut Von Uexkull, setiap makhluk hidup memisahkan diri dari keanekaragaman obyek-obyek di sekelilingnya, sejumlah kecil karakteristik yang menyebabkan reaksi dan ansembelnya membentuk ”sekeliling”-nya (umwelt).
Ada alasan yang sangat mendasar mengapa representasi mental alam selalu mencerminkan aspek-aspek atau perspektif realitas. Pemikiran Bertalanffy, paling tidak dalam oksidental dalam bahasa manusia, pada prinsipnya merupakan makna lawan. Seperti yang dimiliki Heraclidtus, Bertalanffysedang berfikir panas dan dingin, hitam dan putih, siang dan malam, hidup dan mati, dijadikan dan menjadikan. Jadi kategori pengalaman dan pemikiran Bertalanffy nampak ditentukan oleh pertamafaktor biologi dan kultural, kedua ikatan manusia yang diikuti oleh proses antropomopisasi gambaran dunia, ketiga walaupun deantropomopis pengetahuan hanya mencerminkan aspek-aspek tertentu atau masalah realitas, keempat setiap aspek itu relatif kebenarannya, hal ini menunjukkan batasan dan kemuliaan pengetahuan manusia.
Berdasarkan uraian di atas Teori Sistem Umum sebagai sebuah trend rahasia dalam berbagai disiplin ilmu tidak muncul begitu saja tetapi melalui perjalanan yang panjang dengan bantahan-bantahan yang muncul dan bersifat menentang karena pada waktu itu ilmu fisika dan kimia dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan ilmu sosial. Masalah sistem itu penting dalam pembatasan masalah pada prosedur analisis ilmu pengetahuan. Hal ini seharusnya diungkapkan pertama kali berawal dari ilmu-ilmu metafisik dan pertama kali diperkenalkan oleh Von Bertalanffy melalui bukunya General System Theory pada tahun 1928 dan merupakan awal konsep untuk memandang dan memecahkan masalah secara integral dan holistik. Memecahkan masalah hanya dengan satu ilmu pada waktu itu sudah tidak memadai, sehingga General System Theory sangat populer dan diakui oleh dunia Teori sistem umum juga sering diidentifikasi dengan teori cibernetika, sebagai sebuah teori pengendalian mekanis dalam tehnologi dan alam, didirikan pada pengertian informasi dan feedback. Isomorfisme dalam Ilmu Pengetahuan, bermaksud menunjukkan tujuan umum dan beberapa konsep umum dari teori sistem umum. Pada kasus yang sederhana, tujuan isomorfisme telah dapat dilihat seperti pada hukum eksponensial maupun hukum logistik. Ada tiga prasyarat untuk keberadaan isomorfik dalam bidang dan ilmu pengetahuan yang berbeda, yaitu adanya analogis-analogis, homologis, dan penjelasan. Sementara model organisme sebagai sistem terbuka telah terbukti bermanfaat dalam penjelmaan dan perumusan matematika berbagai fenomena hidup. Model ini juga menghasilkan masalah-masalah alam yang fundamental. Di sisi lain, teori sistem dalam psikologi dan psikiatri bukanlah penemuan baru yang harus dikontradiksikan. Konsep sistem adalah pembalikan teori robotik secara radikal. Dalam kondisi tertentu sistem terbuka mendekati suatu kondisi yang bebas waktu yang disebut sebagai kondisi tetap/mantap.
  • Perspektif Klasik[6]
Teori-teori organisasi klasik adalah teori yang berkembang di khir abad ke- 18, yang pada peroide yang sering disebut Revolusi Industri. Berdasarkan pengamaan yang ada, perkembangan teori organisasi tidak lepas dari faktor lingkungan., yang meliputi aspek teknologi, sistem politik, sistem sosial, sistem budaya,dn demografi (persebaran penduduk). Terutama yang paling mendasar di sini adalah teknologi. Ini dapat dibuktikan dari proses lahirnya perspektif klasik. Perspektif ini berkembang pada periode perubahan teknologi di masa Revolusi Industri, yaitu di mulai di Inggris pada abad ke- 18.pda masa ini lah apa yang disebut ”organisasi” dalam pengertian modern muali berkembang. Revolusi Industri sendiri dapat diartikan sebagai titik pertama dalam sejarah dimana manusia mulai mengenal mesin, dlam pengertian mesin produksi yang melakukan yang mampu melakukan pekerjaan repetitif secara otomtis.
Menurut Hatch, pada periode klasik terdapat dua kelompok besar ahli pemikir organisai. Pertama, pemikir-pemikir aliran sosiologis yang mencoba mndeskripsikan dan menganalisis struktur organisasi dan peran-peran didalamnya. Dan yang kedua, pemikir-pemikir aliran administrasi dan manajemen yang lebih menitikberatkan pada masalah-masalah praktis yang dihadapidalam mengelola organisasi.
Berikut ini adalah kontribusi dari masing-masing tokoh tersebut.
Max Weber, Ahli Sosiologi, Jerman, untuk pertama klainya ia mengkaji organisai pemerintahan secara mendalam. Weber mendasarkan pemikiran birokrasinya pada konspe otoritas formal yang impersonal, objektif, dan rasional. Birokrasi semacam ini dijalankan dengan aturan-aturan dan prosedur bki, melalui bentuk-bentuk kontrol legalistik. Pengaruhnya terhadap teori terutama adalah pada aspek organisai publik, yang oleh tokoh-tokoh sebelumnya tidak dikemas dalam pemikiran tersendiri.
Frederick W. Taylor, Ahli Mnajemen, AS, gagasan terpenting dari taylor adalah penerapan prinsip-prinsip ”ilmiah” dlam melakukan pekerjaan dan mengontrol pekerja. Taylor menggunakan metode induktif, yaitu menciptakan suatu prinsip umum dari pengamatan terhadap kasus-kasus khusus. Pemikiran ini terutama dituangkannya dalam principe of scientific management.
  • Perspektif Modern
Perspektif Klasik, sebagaimana  dpat kita cermati dari tokoh-tokohnya, terbagi menjadi dua pemikiran besar, yaitu pemikiran yang menekankan pencapaian efisiensi dan efektivitas organisasi dan liran yang menekankan kebutuhan sosial dan psikologis manusia. Teori organisasi disini berhadapan dengan suatu masalaha klasik, bahwa organisasi modern dapat menolong manusia utnuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan secar efisien dan efektif, tetapi pada suatu ketika dapat ”memperbudak” manusia yang menciptakannya.
Melalu pesrpektif modern, fokus perdebatan berpindah dari aspek internal (efisiensi versus humanisme) pada aspek eksternal (hubungan organisasi dan lingkungan). Organisasi tidak lagi dilihat sebagai unti yang berdiri sendiri, melainkan terkait dengan apa yang disebut lngkungan. Jadi, di satu sisi, teori-teori organisasi perspektif modern adalah kelanjutan dari pemikiran-pemikiran era klasik. Namun dilihat dari sisi yang lain, mereka berbeda. Inspirasi utama mereka adalah keteraturan dan cara kerja alam (nature), khususnya aspek biologis. Sementara itu, pemikir-pemikir klasik umum terinspirasi oleh aspek fisika.
Dari sisi ilmu fisika, pemikiran Newton melihat bahwa alam semesta dapat diasumsikan sebuah mesin, seperti jam raksasa, yang bekerja melalui prinsip-prinsip keteraturan tertentu sehingga tidak terjadi kekacauan atau tabrakan satu sama lain. Gagasan keteraturan ini dikembangkan oleh pemikir-pemikir klsik dengan metafora organisasi sebagai ”mesin” yang harus bekerja secara efektif dan efisien.
Sebaliknya, para pemikir di era modern mengamati keteraturan lain yang dianggap lebih dinamis, yaitu keteraturan makhluk hidup atau dunia hayati. Mereka menamakannya teori keteraturan organik. Ludwig von Bertalanffy, seorang ahli biofisologi Jerman, mengambil konsep ”organisme” yang dikembangkan ahli-ahli biologi untuk diterapkan pada semua jenis ”sistem” secara umum. Inilah petak dasar dari pemikirn perspektif modern.
Di sisi lain, hingg pasa taraf tertentu, basis pemikiran modernis ternyata cenderung menghasilkan pa yang disebut ”rekayasa sosial” (social engineering). Terutama di negara-negara berkembang, dimana para ahli atau negarawan acap kali merombak ”sistem” yang sudah ada, dengan asumsi unsur-unsur pembentuknya tidak terkait dalam suatu interrelasi yang ideal, dan menciptakan ”sistem” baru yang lebih unggul.
  • Perspektif Post-Modern
Kecenderungan pemikir-pemikir post-modern adalah membalikkan asumsi-asumsi dasar dari pemikir-pemikir sebelumnya. Hal yang paling mendasar dalah ”keteraturan”. Baik pendekatan klasik maupun modern mendasarkan gagasan-gagasannya pada konsep keteraturan. Bedanya pemikir klasik mengambl gagasan keteraturan dari mekanisme alam semesta (fisika), sementara pemikir modern dari keteraturan organik makhluk hidup (biologi). Namun, inilah yng berbeda, perspektif post-modern mereka sengaja mengabaikn konsep keteraturan itu, termasuk dalam teori organisasi. Tujuannya adalah memperlihatkan realitas yang lebih kompleks, dimana kebenaran yang satu bersanding dengan kebenran yang lain meskipun keduanya tidak sama.
Pokok-pokok pemikiran dibawah ini adalah ”asumsi-asumi” yang mendasari pemikiran para ahli organisasi dan administrasi sejak jaman klasik sampai modern. Asumsi-asumsi inilah yang akan dibongkar oeh pemikir dri post-modern.
  1. Kemajuan atau pertumbuhan adalah sesuatu yang tanpa batas. Baik pendekatan klasik      maupun modern pada dasarnya tidak mengasumsikan adanya batas-batas tertentu bagi    perkembangan organisasi.
  2. Kebenaran adalah universal, sehingga rancangan yang berlaku pada satu kasus dapat     diterapkan pada kasus lain.
  3. Kebutuhan dan hasrat manusia pada dasarnya sama dan dapat di objektivitasi.
  4. Hierarki dan ketidakseimbangan kekuasaan dalam organisasi adalah alamiah.                  Dalam banyak hal apalagi bagi kita yang negara berkembang belum bisa diduga seperti apa kondisi dan penyesuaian-penyesuaian yng dilakukan organisasi terhadap kondisi pasca industri tersebut. Hanya saja beberapa ciri yang dapat diidentifikasi muli sekarang adalah:
  1. Penciptaan pengetahuan dan pengguna informasi maki penting. Pekerja sektor               manufaktur berkurang, sementara sektor jasa meningkat.
  2. Batas-batas organisasi dan lingkungan cenderung makin susah untuk dipertahankan.
  3. Batas-batas antara unit-unit atau departemen dalam suatu organisasi juga cenderung       makin kabur.
  4. Kehidupan organsisasi ditandai oleh ketidakpastian yang makin besar.
Jika dibatasi pada organisasi bisnis, perubhan yang terjadi dalam masyarakat pasca industri ada alam tiga hal penting berikut.
  1. Sistem produksi, harus menyesuaikan dengan perubahan-perubahan selera pasar yang   berlangsung cepat.
  2. Pasar domestik tidak memadai, harus ada internsionalisasi memasuki pasar-pasar              baru diluar negeri.
  3. Inovasi menjadi sagat penting, dimana riset dan pengembangan tidak jarang akan              sangat menentukan kelangsungan dan perkembangan perusahaan.
Dengan latar belakang perubahan-perubahan pasca-industri tersebut, dapat dipahami bahwa proyek pemikiran post-moernisme itu sendiri merupakan antisipasi terhadap pola pikir masyarakat yang secara radikaltelah berubah. Empat asumsi yang dikemukakan tersebutmenjelaskan beberapa haldari sustu pandang post modernis.
Kesimpulan
Sistem Teori merupakan suatu konsep dasar yang menjelaskan hubungan sistematis suatu fenomena dengan cara merinci suatu hubungan sebab – akibat yang terjadi. Di kehidupan sehari-hari istilah sistem teori sering dihubungkan dengan praktik, sistem teori kadang-kadang tidak mudah dipahami karena sifatnya cenderung abstrak. Memahami pemikiran secara abstrak barangkali bukan tugas yang mudah. Namun, sesuatu yang sulit bukan berarti tidak berguna. Seorang ahli mengatakan, tidak ada yang lebih praktis daripada teori yang bermanfaat, artinya, dengan menguasai suatu teori secara baik seseorang akan lebih mudah menangani hal-hal praktis yang berkaitan dengan ilmu dilapangan. Dibelakang setiap sistem teori terdapat asumsi-asumsi yang membentuk sudut pandang suatu teori biasanya asumsi tersebut berpola objektif dan subjektif. Maksudnya, realita secara objektif dapat diukur, dinilai, dan diperbandingkan, dengan satu sama lain. Sedangkan pola subjektif mengasumsikan lebih kepada perorangan yang dapat berfikir berbeda-beda pada suatu objek yang sama.
Dari pemikiran Bertalanffy tentang hal tersebut di atas jelas Bertalanffy mengemukakan pemikirannya tentang General System Theory yang telah berjasa dalam menghilangkan jurang pemisah antara ilmu-ilmu eksak dengan ilmu sosial. Masyarakat dunia semakin sadar bahwa dibutuhkan kesatuan dalam ilmu pengetahuan untuk mengatasi permasalahan yang muncul di belahan dunia manapun.
Refrensi
Ludwig Von Bertalanffy (1968) “General System theory : Foundations, Development, Applications”, Resvised Edition, Goerge Braziller New York
Marshall McLuhan dalam: McLuhan:…. Ed Hot & Cool oleh Gerald Emanuel Stearn Sebuah   Buku meterai diterbitkan oleh The New American Library, New York, 1967
Owens, Robert G., Organizational Behavior in Education, Third Edition (New Jersey: Prentice-Hall Inc, 1987)
Thoha, Miftah, Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008).
Wexley, Kenneth N., dan Yukl Gary A, Perilaku Organisasi dan Psikologi Personalia, Cet. II, Penerj. Muh. Shobaruddin, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003)

[1] Marshall McLuhan dalam: McLuhan:…. Ed Hot & Cool oleh Gerald Emanuel Stearn Sebuah   Buku meterai diterbitkan oleh The New American Library, New York, 1967, hal 288.
[2] http://id.shvoong.com/humanities/history/2288480-sejarah-penemuan sistem/#ixzz2NIvbCY5B
[3] Owens, Robert G., Organizational Behavior in Education, Third Edition (New Jersey: Prentice-Hall Inc, 1987), h. 76
[4] Wexley, Kenneth N., dan Yukl Gary A, Perilaku Organisasi dan Psikologi Personalia, Cet. II, Penerj. Muh. Shobaruddin, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003),h. 54
[5] Thoha, Miftah, Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008). h. 34